Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2012

26


Ibumu pernah bercerita tentang sehelai pintu yang terangkat dari daunnya oleh angin marah
Bagimu pintu sangat berharga untuk lenyap di hutan

Bukan sekadar pintu
Benda berbentuk persegi, jalan masukmu ke dunia
Bertulis tanggal, bulan dan tahun
Kini ibu tidak bisa ingat tanggalnya, hanya bulan dan tahunmu berbaring di sisi lengan empuknya

Aku tidak perduli dengan angka-angka itu
Yang aku mau, malam ini kau berbaring di lengan kakuku istriku


Rabu, 18 Januari 2012

Indahmu, Ada! Tepat Di ...

Lengan lapangmu menyambut bocah.[]



Tarik Suara Tak Terik

Apakah kau sempat merasakannya?
Sirkulasi udara, memutar bolak balik di kerongkongan kita.
Entah sempat hinggap di paru senyap.
Atau mengalir deras di antara darah yang pernah ‘sengaja’ tersayat.

Bukankah bulu-bulu halus wajah bergetar saat angin menyentuhnya.
Begitu pula pakaian kita. Mengepak seperti sayap-sayap sedang terbang sempurna.

Turut pula pita suara bergerak, membolak-balik dan tidak sempat menjadi bisu.
Melantun nada lama.
Aku pernah mendengarnya. Saat itu aku duduk di bangku sekolah.

Pita itu ingin terus bergerak dan bersuara.
Berlari tidak harmonis, membentuk pola nada ceria.[]



Menurutmu Hidup Itu Lucu

‘Bersihkan tanganku!’, itu perintah yang rumit.

Serumit baris ombak kecil yang mendekat di hadapanku. Kadang tinggi, kadang rendah. Sebelumnya jauh, sekarang dekat. Mengecup ibu jari kakiku yang dingin, tetapi tidak berusaha menghindar. Seperti perahu di atas pasir tanpa air di dasarnya. Hanya bisa diam melihat sejuta kerumitan laut.

Serumit pasir di selah jari-jarimu. Saat kau mengulurkannya, aku menangkap jari bersama sejuta kerumitan.
Kau tahu. Aku sangat beruntung malam itu bisa mendengar ledakan. Lima kali ledakan. Ketika aku berani melihat sedikit senyum di antara cahaya warna-warni.

Itu alasanku menangkap jarimu. Memungut satu persatu bulir pasir, meletakkannya kembali ke pantai. Aku ingin kerumitan perlahan hanyut ke dasar laut. Pastinya, esok, saat bulan membesar, pasir-pasir kerumitan bisa mengalir meninggalkan hidupmu. Hidup kita sayang.

Seingatku, untuk kedua kalinya kau berkata, ‘Hidup itu lucu, pantas untuk ditertawakan’. Sebelumnya, kau mengatakan itu sambil membersihkan air di bawah matamu yang berkaca.


Aku akan sangat bangga bisa membawa jari-jarimu bersamaku. Bersama membenamkan pasir ke dalam air, agar tidak ada lagi angin yang menerbangkannya. Agar tidak ada lagi mata yang tersakiti oleh pasir beterbangan.[]




Dendang Tentang Seseorang


‘Teruntukmu hatiku.. inginku bersuara..’
Cukup satu bait, terhanyut aku menyimakmu hidup.
Terus henyak, kemudian semakin larut.[]