Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Tampilkan postingan dengan label Ecology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ecology. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

Anak Emas Petani Terjajah


# Sketsa Ekologi Desa Kompang Bagian 2

Mendadak Cengkeh

PERANTAU punya segudang cerita, mulai dari yang lucu hingga menyedihkan. Biasanya, obrolan akan semakin ramai ketika sesama perantau berkumpul. Saling berlomba memaparkan pengalaman-pengalaman mengais nafkah di kampung seberang.

            Dua orang perantau, Asikin (60 tahun),  Basri (46 tahun) malam itu sedang berkumpul. Beberapa orang lainnya—mereka yang jauh lebih muda dari Asikin dan Basri—menjadi pendengarnya. Jadilah  suasana rumah riuh dan sesak oleh suara gelak tawa. Sesekali mereka terbahak serentak di akhir salah satu bagian cerita.

            Suasana menjadi lebih sempurna ketika rombongan cangkir berisi kopi diletakkan satu persatu di tengah-tengah meja. Tidak lama, aroma pisang goreng mendahului datang untuk dihidu. Maka semakin penuhlah meja dengan makanan dan minuman pelengkap cerita malam itu.

            Cerita pengantar yang menarik—sebelum kisah cengkeh dan kakao hadir—adalah lelucon Asikin saat merantau di Menado. Dia bercerita tentang perempuan-perempuan dari gunung yang datang ke kota. Perempuan-perempuan gunung menjadi ini menjadi sasaran banyak laki-laki, termasuk Asikin. Laki-laki ini tidak perduli dengan tampilan perempuan gunung yang “kampungan” atau wajah yang kurang menarik. Itu urusan nomor dua. Hal paling penting, karena perempuan-perempuan gunung memiliki banyak uang dari hasil penjualan cengkehnya. Setelah mendapatkan uangnya, kemudian perempuan gunung akan ditinggalkan. Yah, cengkeh memang sedang berjaya di Menado pada tengah dekade 1970an.

            Dari Menadolah awal Asikin mendapat informasi mengenai tanaman cengkeh, kemudian mencobanya di kampung halamannya, desa Kompang, kabupaten Sinjai.

            Tahun 1977 Asikin mulai membudidayakan cengkeh. Pengetahuan menyemai hingga pembibitan menjadi modal utama.

Saat itu benih cengkeh harganya masih 25 rupiah. Jika sudah menjadi bibit, maka harganya akan semakin tinggi. Untuk bibit yang telah memiliki dua lembar daun harganya 250 rupiah. Uuntuk bibit dengan empat lembar daun harganya 500 rupiah. Tidak banyak petani yang mengetahui jenis cengkeh yang mereka dapatkan. Namun dari beberapa cerita, di peti kemasan benih tertulis kata “Bogor”. Dari situlah mereka menyebutnya sebagai Bibit Bogor.

Hampir sama dengan cerita petani-petani di desa Gantarang, hanya saja menurut mereka cengkeh masuk sejak tahun 1971. Tanaman cengkeh merupakan salah satu program pertanian pemerintah pusat yang masuk melalui kepala-kepala desa. Satu kepala desa diberikan satu peti benih (1000 benih) untuk dibudidayakan menjadi bibit. Sayangnya di Gantarang, dari seribu benih yang disemai hanya sekitar 20 bibit yang tumbuh. Lebih parah lagi, tidak ada satupun—dari 20 bibit tadi—yang berhasil tumbuh menjadi pohon cengkeh dewasa.[1]

Karena belum ada yang berhasil membudidayakan tanaman cengkeh di desa Kompang, maka tidak banyak petani yang mau melirik cengkeh.

Rupanya kepala desa belum kapok. Sekira 1977, kepala desa kembali membeli dua peti benih Cengkeh Bogor di Makassar. Hasilnya cukup memuaskan. Satu persatu petani mulai mencoba menanam cengkeh, apalagi setelah beredarnya banyak cerita sukses tanaman cengkeh dari tempat lain. Tanaman cengkeh yang kabarnya menjanjikan keuntungan secara ekonomi. Kabar dari perantau-perantau yang pulang kampung.

Masuk awal 1980, cengkeh mulai populer di Kompang. Petani mulai memupuk dan menyemprot cengkehnya. “Pupuk tiga serangkai” menjadi andalan, Urea, TSP dan NPK. Pupuk dan pestisida ini satu paket dengan bibit yang disebarkan pemerintah ke banyak desa di kabupaten Sinjai, salah satunya Kompang, kecamatan Sinjai Tengah.

Apa yang terjadi di Kompang merupakan salah satu dampak dari perubahan orientasi kebijakan pertanian di Indonesia. Kebijakan pertanian yang coba banting stir untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kebijakan pertanian ini lebih berorientasi pada modernisasi pertanian, percepatan produksi serta liberalisasi perdagangan untuk hasil-hasil bumi. Salah satunya adalah sistem perkebunan yang berpatok pada komoditi ekspor. Padahal, sebelumnya pola pertaniannya adalah untuk pemenuhan kebutuhan pokok.[2]

Kebijakan pertanian yang tidak berpihak pada rakyat ini tidak lepas pula dari kepentingan kapitalis global yang berdiri di belakang WTO, IMF dan World Bank. Menggerakkan pemerintahan boneka dengan dalih liberalisasi pasar sebagai sebuah kebutuhan bersama masyarakat dunia.

Manis-Pahitnya Cokelat

MELIHAT jemuran biji kakao di sepanjang badan jalan desa sama halnya melihat barisan rumah-rumah penduduk. Bisa dikatakan, hampir setiap rumah tangga memiliki kebun kakao untuk sandaran ekonomi. Kondisi alam yang berbukit-bukit membuat rumah-rumah tidak memiliki halaman luas untuk penjemuran.

Tapi kini hadir masalah dengan sandaran ekonomi petani Kompang. Bukan hanya biji kakao saja yang kering, tapi juga daun berikut pohonnya ikut kering dimakan usia. Kondisi ini diperparah pula dengan kondisi ekologi yang berubah.

Ada banyak faktor yang menjadikan kondisi ekologi menjadi tidak seimbang. Faktor yang paling nampak adalah peralihan fungsi lahan perkebunan secara besar-besaran di awal tahun 1980. Semakin digemarinya cengkeh dan masuknya kakao memacu petani untuk memberi ruang yang lebih pada dua jenis tanaman komoditi tersebut.

Masuknya faham modernisasi pertanian—juga dorongan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang konsumtif—mengharuskan petani cengkeh dan kakao memberikan pupuk kimia dan pestisida berlebih pada tanaman.

Tanaman jangka panjang juga terus menghisap unsur hara dalam tanah dan tidak memberi kesempatan tanah untuk beristirahat. Sebagai jalan pintas, pupuk kimia adalah suplemen tanaman yang bisa menjawab keterdesakan petani. Di sisi lain, pupuk kimia menjadikan petani bergantung dengan produk pertanian yang belum bisa dihasilkannya sendiri. Membeli adalah jawabannya. Sekali lagi, perusahaan pertanian multinasional diuntungkan dalam derita petani.

Awalnya, tiga tahun sebelum program swasembada pangan di Sulsel (lappo ase), petani sebagian besar menolak penggunaan pupuk.[3] Bahkan ketika pupuk dibagikan secara cuma-cuma oleh pemerintahan gubernur Andi Odang (1978-1983), petani masih memandang sebelah mata penggunaan pupuk. Petani hanya menaruh pupuk-pupuk pembagian pemerintah di kolong-kolong rumah. Barulah setelah program lappo ase berjalan, petani mau menggunakannya. Berikutnya, petani sendirilah yang meminta pupuk dari pemerintah.

Sebagaimana pandangan umum, kakao bukanlah tanaman asli desa Kompang. Hadirnya kakao kemudian membutuhkan penyesuaian-penyesuaian karena harus beradaptasi dengan kondisi ekologinya.

Ibarat anak, kakao adalah anak emas. Apapun yang menjadi masalah dalam budidayanya, disingkirkan. Bukan hanya pohon-pohon besar menjadi korban penebangan—karena menghambat pertumbuhan kakao—tapi juga predator alami juga menjadi korban pestisida. Perlakuan ini menyebabkan ketidakseimbangan ekologi. Maka, muncullah hama-hama baru. Selain itu, penyemprotan dalam dosis tinggi menjadikan hama semakin kebal karena telah terseleksi.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat petani kakao begitu teguh mempertahankan tanaman kakao? Padahal, petani tahu bagaimana dampak yang akan dihadapinya dari model bertani ini—yang tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.

Pala, Alternatif atau Mimpi Baru?

DESEMBER 2011, aku melibatkan diri peroses suvey rumah tangga di desa Kompang dan Gantarang. Menghitung pendapatan, belanja dan ongkos proses bertani masyarakat. Semuanya aku catat berdasarkan daftar pertanyaan.

            Aku sangat menikmati survey ini karena bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang baru. Sampel yang teracak, mengharuskan aku ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya.

            Survey ini dilakukan dalam rangka penelitian untuk melihat tingkat ketahanan masyarakat di tengah-tengah perubahan iklim yang terjadi.

            Salah satu pelajaran penting yang aku dapatkan adalah semakin banyak petani yang mulai meninggalkan pupuk kimia. Selain alasan harga yang semakin tidak terjangkau, juga karena tanaman kakao dan cengkeh yang tidak bisa lagi menjadi sandaran ekonomi untuk mereka.

            Sebelumnya, kedua komoditi ini menjadi andalan karena harganya yang menjanjikan di pasaran. Puncaknya adalah akhir 1990an, ketika krisi melanda sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Harga komoditi ekspor—salah satunya adalah kakao—mendadak naik hingga di atas 10 ribu rupiah per kilogram.

            Sebenarnya kenaikan harga ini terjadi akibat naiknya nilai tukar mata uang asing, sehingga jika ditukar dalam nilai tukar rupiah yang anjlok nilainya menjadi tinggi. Mengingat bahwa komoditi ekspor diperdagangkan dengan mata uang asing. Sebenarnya harga kakao saat itu bukannya meningkat tapi karena nilai rupiah yang terlampau rendah.

            Jauh berbeda dengan saat sekarang, harga kakao semakin tidak mampu menutupi kebutuhan petani. Diperparah pula usia pohon kakao di Kompang yang tidak produktif lagi seperti dahulu.

            Kondisi ini memaksa petani untuk memangkas ongkos proses bertaninya, terutama untuk konsumsi pupuk dan perstisida.

            Tapi tidak semua petani sepenuhnya meninggalkan konsumsi pupuk dan pestisida. Untuk penggunaan pupuk, ada yang mengurangi volume penggunaan, ada yang mengurangi intensitas waktunya dan ada yang sama sekali pasrah untuk tidak memupuknya lagi. Berbeda lagi dengan penggunaan pestisida, petani hanya menggunakannya untuk mengendalikan rumput yang tumbuh di sekitar kebun. Tidak ada lagi penyemprotan hama untuk buah, daun maupun batang.

            Kini kakao tidak bisa lagi diharapkan. Hasan misalnya, di samping-samping poohon kakao uzurnya kini telah disiapkan tanaman lain, seperti cengkeh, duren dan aren. Berbeda lagi dengan Bahar. Dia lebih awal telah memprediksi masa depan kakao di Kompang. Sebagai alternatif, kemudian dia mulai membudidayakan pala.

Sekarang Bahar menjadi petani yang memiliki pohon pala paling banyak di Kompang. Bahkan banyak petani lain tertarik dan membeli bibit pala darinya.

            Yah, pala kini mendapat ruang di lahan-lahan pertanian masyarakat desa Kompang. Siap memegang tongkat estafet tanaman kakao yang terlalu tua untuk menghidupi petani.

            Beda lagi dengan nasib cengkeh. Perubahan iklim yang terjadi di tahun 2011 menjadikan cengkeh gagal panen. Curah hujan yang tinggi membuat bunga cengkeh enggan menguncup.

            September 2010, hampir semua media menyoroti curah hujan yang tidak menentu di wilayah barat Indonesia. Musim penghujan yang lebih panjang dari tahun sebelumnya. Seperti yang dilansir Media Indonesia.com pada 16 september 2010. Laporan BMG menyebutkan adanya penaikan suhu di permukaan laut berkisar 28-29 derajat celcius. Hal ini menyebabkan menguapnya air laut.

            Sebelumnya Kompas.com juga telah memberitakan adanya anomali cuaca ini pada 30 Juni 2010. peristiwa yang juga disebut dengan Madden-Julian Oscillation akan terjadi di wilayah barat Indonesia, kemudian akan bergerak perlahan ke wilayah timur Indonesia.

            Anomali cuaca ini kemudian juga terjadi di kabupaten Sinjai. Akibatnya, tidak atupun cengkeh petani yang berbunga.

            Di saat kakao tidak bisa lagi membantu petani memenuhi kebutuhan ekonominya, harapan pada cengkeh pun sirna. Pala pun belum bisa memberikan jawaban karena rata-rata umur tanaman pala yang masih muda (belum berbuah).

            Fakta-fakta bahwa tanaman komoditi tidak bisa menjadikan petani berdaulat, satu persatu bermunculan. Tapi mereka terlanjur bergantung dan sulit untuk melepaskan diri dari kondisi yang semakin rumit.

            Namun tidak sedikit pula alternatif—untuk keluar dari masalah—yang bermunculan. Mulai dari memperbaiki pohon kakao (pemangkasan, sambung samping dan menanam bibit baru), membuat tanaman sela (pisang dan kacang-kacangan), menanam atau merawat kembali buah-buahan (langsat, durian, rambutan dan mangga), menanam pohon kayu sampai mencari penghasilan lain di luar desa (sebagai buruh bangunan).

            Ancaman krisis pangan telah begitu nampak. Di sisi lain, petani telah terbiasa membeli sebagian besar pangan mereka. Pilihan untuk kembali memproduksi kebutuhan pangan membutuhkan pengorbanan besar—harus menyisihkan sebagian lahan tanaman komoditinya untuk ditanam kembali dengan tanaman pangan.[]


[1] Focus Group Discussion kelompok tani desa Gantarang, tanggal 25 November 2011.
[2] Li, T.M. (2002) Proses Transformasi daerah pedalaman di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
[3] Walaupun paket pupuk kimia dalam program Lappo Ase menitikberatkan pada tanaman padi, tapi konteks ini menjadi awal persentuhan petani Kompang dengan pupuk kimia. Dampaknya adalah penggunaan pupuk kimia untuk budidaya jenis tanaman lain seperti jagung, cengkeh dan kakao.


Rabu, 18 Januari 2012

Untung Masih Ada Puang Hasan



# Sketsa Ekologi Desa Kompang Bagian 1


SATU sore yang dingin di bulan Juni, saat kabut tipis bergerak perlahan di punggung-punggung bukit. Cerita Inru mulai diperdengarkan padaku oleh Hasan di sepanjang jalan menuju pohon-pohon tempatnya akan menyadap air Inru. Mereka menyebutnya nyara’ atau sara—atau bahasa umumnya menyadap atau sadap. Dari rumahnya, di pinggir jalan poros Sinjai-Malino, tepatnya di dusun Bonto, desa Kompang—dimana atap rumah Hasan sejajar tingginya dengan jalan, bahkan lebih rendah lagi—kami bergegas sebelum gelap menyergap, air Inru harus segera sampai di wajan masak.

            Melewati deretan pohon kakao berumur lebih 15 tahun yang tidak beraturan, jalan dimulai dengan medan menurun. Kakao ditanam di sela-sela batu yang banyak terdapat di lahan-lahan petani desa Kompang. Tanah subur yang terdiri dari gumpalan tanah liat berpasir yang banyak terdapat di wilayah ini. Tepat di kebun milik Hasan, kakao-kakao uzur berbuah kering telah siap digantikan oleh bibit cengkeh setinggi dada manusia dewasa tumbuh di sampingnya. Karena usia dan penyakit yang tidak kunjung terobatilah kakao sesaat lagi akan mengakhiri kejayaannya di tanah milik Hasan.

            “Saya siapkan lahan ini (menunjuk di tempat beberapa pohon kakao tua nyaris tanpa buah) untuk cengkeh, makanya banyak bibit cengkeh yang saya tanam di sini”, Hasan menjelaskan padaku mengenai keberadaan bibit cengkeh di hadapanku sambil terengah.

            Selain cengkeh, ada pula bibit pohon Pala dan Durian yang ditanam oleh Hasan di sekitar kebun kakaonya yang tidak produktif lagi. Harapannya, bibit-bibit baru ini akan mampu menggantikan tanaman kakaonya.

            Kemudian hadir pertanyaan, apa yang membuat Hasan mampu bertahan di saat kakao tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarganya? Apa yang dilakukan Hasan ketika cengkehnya yang tidak berbunga tahun ini akibat musim hujan yang nyaris sepanjang tahun? Jika hanya melihatnya sepintas, hampir tidak ada tanaman di kebunya yang bisa menyelamatkan Hasan.

***

MENYADAP Inru merupakan keahlian turun temurun di keluarga Hasan. Ayahnya, puang Batong dan kakeknya, puang Karro juga legenda penyadap Inru di masa lalu. Legenda keluarga ini bisa menyadap ratusan pohon Inru miliknya. Terakhir, Hasan masih mendapatkan puang Karro yang bungkuk hampir menyentuh tanah, masih kuat memikul air Inru di punggungnya. Berat air Inru yang dipikul bisa mencapai 20 kilogram, bergantung dari kuwalitas airnya. Biasanya, jika kuwalitasnya bagus (rasanya lebih manis dan gula yang dihasilkan lebih banyak), maka beratnya akan bertambah. Melewati jalan terjal dengan kemiringan hingga 50 derajat ditambah susunan batu tajam berlumut.

Desa Kompang saat itu (1960-an akhir), masih dipenuhi oleh ribuan pohon Inru dan kemiri. Puang Batong saja semasa hidupnya memiliki lebih 100 pohon Inru, padahal lahan miliknya termasuk lahan yang sempit di antara lahan milik warga yang lain. Jadi bisa kita bayangkan 35 tahun silam—saat cengkeh dan kakao belum ada—desa tempat Hasan tinggal dipenuhi oleh pohon-pohon penghasil gula aren/gula merah.

            Sekitar 1970-an akhir, cengkeh mulai masuk di desa Kompang, kemudian disusul oleh kakao di awal 1980-an. Pada umumnya, ada dua cara petani mendapatkan bibit. Pertama, dengan membeli bibitnya dari teman, sampai pedagang langsung bibit. Cara kedua adalah melalui pemerintah desa (kepala desa dan jajarannya). Pemerintah melalui dinas pertanian kabupaten membagikan 3 bibit untuk satu rumah tangga secara cuma-Cuma untuk di tanam di kebun masing-masing. penyalurnya kemudian adalah pemerintah desa yang dibantu oleh penyuluh pertanian. Akhirnya, semakin banyak petani yang mengubah peruntukan lahannya, dari tanaman jagung ke cengkeh dan kakao.

Karena kedua jenis tanaman ini (cengkeh dan kakao) membutuhkan penyinaran langsung yang baik, dimulailah penebangan pohon-pohon besar yang kira-kira bisa menghalangi pertumbuhan cengkeh dan kakao. Sejak saat itulah banyak pohon Inru dan kemiri yang ditebang oleh petani. Selain dapat menghambat proses pencahayaan, Inru dan kemiri juga dapat mengakibatkan tanaman di sekitarnya berebut makanan. Untuk memaksimalkan pertumbuhan cengkeh dan kakao maka perebutan makanan di dalam tanah harus diakhiri. Keputusan akhir, petani mengorbankan tanaman lamanya.

Tidak semua tanaman Inru menjadi korban. Peristiwa itupun tidak terjadi dalam sekejap, tapi bertahap. Hingga kini masih ada beberapa pohon yang tetap tumbuh, dengan catatan pohon Inru tersebut tidak mengganggu tanaman komoditi petani. Termasuk sekitar 4 pohon inru yang hingga kini masih menetesi ekonomi keluarga Hasan.

***

MENGAMBIL air indu dari pohonnya atau nyara’ bukanlah pekerjaan mudah. Selain membutuhkan pengalaman, juga kesabaran untuk tetap memperlakukan tanaman dengan kearifan. Maka tidak jarang ada pemilik inru yang menyerahkan pohonnya kepada petani lain untuk di sara’ karena menganggap dirinya kurang mampu untuk melakukannya.

Di dusun Bonto misalnya, saat ini hanya tersisa sekitar 10 orang saja pembuat gula yang masih aktif mengambil air inru dari pohonnya. Alasannya beragam, ada yang menganggap pekerjaan ini pekerjaan berat dengan penghasilan yang tidak sebanding, kurang berpengalaman sehingga pohon tidak menghasilkan air yang cukup banyak—bahkan tidak ada sampai beranggapan bahwa pekerjaan ini pekerjaan kelas bawah. Tapi tidak masalah dengan anggapan itu, karena semakin sedikit yang menekuni pekerjaan ini, semakin besar permintaan pembeli—mengingat bahwa banyak makanan tradisional masyarakat yang menggunakan bahan gula aren, seperti cendolo, saraba, kolak, kue bugis dan masih banyak lagi.

Bagi Hasan, mengambil air inru bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi tidak untuk sebagian orang. Untuk pohon inrunya, Hasan mengaku hanya dia yang bisa mengambilnya. Jika coba memberikan pekerjaan ini ke orang lain, maka kuwalitas gulanya kurang baik. Kadang gula yang dihasilkan akan sangat buruk—warnanya menjadi kehitaman. Bahkan inru akan ‘mogok’ untuk meneteskan airnya. Ini bukan mencari pembenaran atas ketidaktahuan penyebab masalah yang terjadi pada inrunya, tetapi ini yang dialami oleh Hasan. Memahami dan memperlakukan alam dengan kasih sayang, tentunya dengan bumbu kesabaran.

“Yah, kalau hari ini airnya sedikit, mungkin itu yang ada. Mungkin besok sudah kembali banyak lagi airnya. Yang penting harus sabar”, Hasan meyakinkan.

Kuwalitas dan banyaknya air inru tidak dipengaruhi oleh curah hujan menurut Hasan, tetapi bagaimana kita merawat dan memperlakukannya. Jika perlakuannya baik, maka gula yang dihasilkan akan baik pula.

Berikut tips yang diberikan oleh Hasan:

Mulanya harus menunggu hingga pohon inru benar-benar bisa memproduksi gula. Sebelum mengiris ara’angnya (bagian batang tempat menempelnya buah), bagian ini harus diketuk-ketuk dengan kayu dari pangkal hingga ujung agar bisa menghasilkan air nantinya. Kayu dibuat khusus agar tidak melukai bagian ara’angnya yang akan diiris. Bisanya pengetukkan dilakukan hingga 7 kali. Biasanya dilakukan satu kali dalam 2 sampai 3 hari.

Untuk memastikan bahwa ara’angnya ini sudah bisa mengeluarkan aair, maka dilakukan uji coba terlebih dahulu. Caranya mudah, yakni dengan membuat penusuk berbentuk seperti pahat dari sebilah bambu. Kemudian penusuk ditancapkan ke ara’angnya kemudian dilepaskan kembali. Jika lubang mengeluarkan air, maka ara’angnya siap untuk diiris.

Bagian yang diiris adalah ara’angnya yang paing dekat dengan tangkai buah. Kemudian diiris halus dengan menggunakan parang khusus yang Hasan sebut panggari’, parang yang dipesan khusus dari Maddako, desa Gunung Perak. Menurutnya, parang ini lebih tajam dari parang biasa. Sisi mata parang lebih tipis sehingga memudahkan untuk melakukan pengirisan. Sama tajamnya dengan pisau silet. Setelah itu, permukaan yang sudah diiris dibersihkan dan membuat cekungan di bagian bawah untuk tempat mengalirnya air. Barulah bambu pattung diletakkan untuk menampung air inru yang keluar.

Bambu pattung ini sebelum digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian mengupas bagian luar kulit bambu agar tidak terlalu berat saat dipikul. Kemudian meletakkan sene atau pengawet yang berasal dari akar kayu Sappaying agar kuwalitas air inru terjaga saat berada di bambu penampungan. Cukup mengiris 5 centimeter sene untuk dimasukkan ke dalam bambu sebelum menampung air inru. Kemudian bagian atas bambu ditutup dengan gumpalan dari daun sukun.

Saat bambu diletakkan untuk menampung air inru, bagian atasnya kemudian ditutup menggunakan pelepah batang pinang kemudian diikat rapat. Tujuannya agar binatang malam—seperti tikus dan kelelawar—tidak mengotori air inru dalam bambu.

***

SEHABIS shalat subuh, sekitar pukul 05.30 WITA Hasan segera bergegas untuk mengambil air inru dalam penampungan. Tidak lupa tas selempang berwarna biru tua yang berisi perlengkapan kebun diselipkan di tubuhnya. Air inru harus segera diambil sebelum siang untuk mengganti bambu penampung semalam yang telah penuh terisi. Biasanya, di sela aktifitas nyara, Hasan akan mengurus kebunnya, juga mencari kayu bakar untuk memasak inru yang akan dijadikan gula. Setelah siang, barulah memutuskan pulang untuk beristirahat.

            Sekitar pukul 15.00 WITA, Hasan akan kembali ke pohon-pohon inrunya untuk pengambilan yang kedua. Memanjat satu persatu puhon inru dengan tangga bambu sederhana yang dibuatnya.tangga yang tentunya tidak memenuhi standar keamanan dan sangat licin jika hujan telah mengguyurnya.

            Setiap mengganti bambu penampung air inru, pengirisan tetap dilakukan. hal ini dilakukan untuk menjaga agar ara’angnya tetap bersih dan meneteskan airnya. Terus teriris hingga pangkal sampai ara’angnya tidak lagi mampu meneteskan airnya. Biasanyanya, ara’angnya akan bertahan hingga 6 bulan, bergantung pada kemampuan pohon inru sendiri. Demikin pula dengan pengetukkan, akan dilakukan seperlunya untuk memaksimalkan keluarnya air.

            Untuk penggemar ballo, biasanya air inru akan dibiarkan di dalam penampungan hingga berminggu-minggu hingga rasa dan baunya berubah menjadi keasaman. Minuman beralkohol hasil fermentasi alami dalam bambu, tetapi rasanya tidak semanis jika air inru yang diambil setiap hari—saat rasa dan bau belum berubah.

            Lalu, bagaimana air inru bisa menjadi tumpuan ekonomi keluarga Hasan di tengah kebun kakao yang tidak produktif lagi? Atau di saat cengkeh-cengkeh tidak menghadirkan bunganya? Siapa yang membantu Hasan mengerjakan air inru ini untuk menjadi gula? Bagaimana cara hasan menjual hasil kerjanya?

***

ISTERI Hasan, Erna, dengan mata terus menyempit coba menghindari terpaan asap kayu bakar di kolong rumahnya. Tapi sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh menghidarinya. Bukankah dia seharusnya menjauhinya, atau memadamkan api hingga tidak sejumput asap pun yang masih terbang. Tetapi toh dia terus menjaga api agar tetap menyala. Membolak balik kayu, mendorongnya, meniupnya sesekali mengaduk air inru yang dimasak. Menantinya hingga mengental dan siap dicetak ke tempurung kelapa untuk menjadi gula.

            Pekerjaan ini terus dilakoninya untuk memenuhi permintaan gula dari langganan-langganannya, terutama saat tingkat konsumsi makanan manusia meningkat di bulan puasa. Terkadang karena banyaknya permintaan hingga dia tidak bisa menyanggupinya.

            Dalam sehari, biasanya Erna menghasilkan sekitar 10 sampai 15 buah gula yang nyaris tidak bisa disimpan. Pembeli biasanya memesan sebelum gula benar-benar telah rampung pengerjaannya. Sebagai saran, jika ingin merasakan gula buatan Erna, pesanlah jauh hari sebelum gula itu dibuat.

            Untuk harga gula sangat berfariasi, mulai dari 6 ribu rupiah, hingga 10 ribu rupiah. Apalagi saat-saat permintaan meningkat—biasanya saat bulan Ramadhan, biasanya harga akan semakin mahal.

            Kemudian pertanyaannya adalah, apa hubungan cerita Hasan ini dengan ekologi dan pangan? Apa manfaat langsungnya dengan masyarakat desa Kompang?[]