# Sketsa Ekologi Desa Kompang Bagian 2
Mendadak
Cengkeh
PERANTAU punya segudang cerita, mulai dari yang lucu
hingga menyedihkan. Biasanya, obrolan akan semakin ramai ketika sesama perantau
berkumpul. Saling berlomba memaparkan pengalaman-pengalaman mengais nafkah di
kampung seberang.
Dua
orang perantau, Asikin (60 tahun), Basri
(46 tahun) malam itu sedang berkumpul. Beberapa orang lainnya—mereka yang jauh
lebih muda dari Asikin dan Basri—menjadi pendengarnya. Jadilah suasana rumah riuh dan sesak oleh suara gelak
tawa. Sesekali mereka terbahak serentak di akhir salah satu bagian cerita.
Suasana
menjadi lebih sempurna ketika rombongan cangkir berisi kopi diletakkan satu
persatu di tengah-tengah meja. Tidak lama, aroma pisang goreng mendahului
datang untuk dihidu. Maka semakin penuhlah meja dengan makanan dan minuman
pelengkap cerita malam itu.
Cerita
pengantar yang menarik—sebelum kisah cengkeh dan kakao hadir—adalah lelucon
Asikin saat merantau di Menado. Dia bercerita tentang perempuan-perempuan dari
gunung yang datang ke kota. Perempuan-perempuan gunung menjadi ini menjadi
sasaran banyak laki-laki, termasuk Asikin. Laki-laki ini tidak perduli dengan
tampilan perempuan gunung yang “kampungan” atau wajah yang kurang menarik. Itu
urusan nomor dua. Hal paling penting, karena perempuan-perempuan gunung
memiliki banyak uang dari hasil penjualan cengkehnya. Setelah mendapatkan
uangnya, kemudian perempuan gunung akan ditinggalkan. Yah, cengkeh memang
sedang berjaya di Menado pada tengah dekade 1970an.
Dari
Menadolah awal Asikin mendapat informasi mengenai tanaman cengkeh, kemudian
mencobanya di kampung halamannya, desa Kompang, kabupaten Sinjai.
Tahun
1977 Asikin mulai membudidayakan cengkeh. Pengetahuan menyemai hingga
pembibitan menjadi modal utama.
Saat itu benih cengkeh
harganya masih 25 rupiah. Jika sudah menjadi bibit, maka harganya akan semakin
tinggi. Untuk bibit yang telah memiliki dua lembar daun harganya 250 rupiah.
Uuntuk bibit dengan empat lembar daun harganya 500 rupiah. Tidak banyak petani
yang mengetahui jenis cengkeh yang mereka dapatkan. Namun dari beberapa cerita,
di peti kemasan benih tertulis kata “Bogor”. Dari situlah mereka menyebutnya
sebagai Bibit Bogor.
Hampir sama dengan
cerita petani-petani di desa Gantarang, hanya saja menurut mereka cengkeh masuk
sejak tahun 1971. Tanaman cengkeh merupakan salah satu program pertanian
pemerintah pusat yang masuk melalui kepala-kepala desa. Satu kepala desa
diberikan satu peti benih (1000 benih) untuk dibudidayakan menjadi bibit.
Sayangnya di Gantarang, dari seribu benih yang disemai hanya sekitar 20 bibit
yang tumbuh. Lebih parah lagi, tidak ada satupun—dari 20 bibit tadi—yang
berhasil tumbuh menjadi pohon cengkeh dewasa.[1]
Karena belum ada yang berhasil
membudidayakan tanaman cengkeh di desa Kompang, maka tidak banyak petani yang
mau melirik cengkeh.
Rupanya kepala desa
belum kapok. Sekira 1977, kepala desa kembali membeli dua peti benih Cengkeh
Bogor di Makassar. Hasilnya cukup memuaskan. Satu persatu petani mulai mencoba
menanam cengkeh, apalagi setelah beredarnya banyak cerita sukses tanaman
cengkeh dari tempat lain. Tanaman cengkeh yang kabarnya menjanjikan
keuntungan secara ekonomi. Kabar dari perantau-perantau yang pulang kampung.
Masuk awal 1980,
cengkeh mulai populer di Kompang. Petani mulai memupuk dan menyemprot
cengkehnya. “Pupuk tiga serangkai” menjadi andalan, Urea, TSP dan NPK. Pupuk
dan pestisida ini satu paket dengan bibit yang disebarkan pemerintah ke banyak
desa di kabupaten Sinjai, salah satunya Kompang, kecamatan Sinjai Tengah.
Apa yang terjadi di
Kompang merupakan salah satu dampak dari perubahan orientasi kebijakan
pertanian di Indonesia. Kebijakan pertanian yang coba banting stir untuk
memenuhi kebutuhan pasar. Kebijakan pertanian ini lebih berorientasi pada
modernisasi pertanian, percepatan produksi serta liberalisasi perdagangan untuk
hasil-hasil bumi. Salah satunya adalah sistem perkebunan yang berpatok pada komoditi
ekspor. Padahal, sebelumnya pola pertaniannya adalah untuk pemenuhan kebutuhan
pokok.[2]
Kebijakan pertanian
yang tidak berpihak pada rakyat ini tidak lepas pula dari kepentingan kapitalis
global yang berdiri di belakang WTO, IMF dan World Bank. Menggerakkan
pemerintahan boneka dengan dalih liberalisasi pasar sebagai sebuah kebutuhan
bersama masyarakat dunia.
Manis-Pahitnya
Cokelat
MELIHAT jemuran biji kakao di sepanjang badan jalan
desa sama halnya melihat barisan rumah-rumah penduduk. Bisa dikatakan, hampir
setiap rumah tangga memiliki kebun kakao untuk sandaran ekonomi. Kondisi alam yang
berbukit-bukit membuat rumah-rumah tidak memiliki halaman luas untuk
penjemuran.
Tapi kini hadir masalah
dengan sandaran ekonomi petani Kompang. Bukan hanya biji kakao saja yang
kering, tapi juga daun berikut pohonnya ikut kering dimakan usia. Kondisi ini
diperparah pula dengan kondisi ekologi yang berubah.
Ada banyak faktor yang
menjadikan kondisi ekologi menjadi tidak seimbang. Faktor yang paling nampak
adalah peralihan fungsi lahan perkebunan secara besar-besaran di awal tahun
1980. Semakin digemarinya cengkeh dan masuknya kakao memacu petani untuk
memberi ruang yang lebih pada dua jenis tanaman komoditi tersebut.
Masuknya faham
modernisasi pertanian—juga dorongan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang konsumtif—mengharuskan
petani cengkeh dan kakao memberikan pupuk kimia dan pestisida berlebih pada
tanaman.
Tanaman jangka panjang
juga terus menghisap unsur hara dalam tanah dan tidak memberi kesempatan tanah untuk
beristirahat. Sebagai jalan pintas, pupuk kimia adalah suplemen tanaman yang
bisa menjawab keterdesakan petani. Di sisi lain, pupuk kimia menjadikan petani
bergantung dengan produk pertanian yang belum bisa dihasilkannya sendiri.
Membeli adalah jawabannya. Sekali lagi, perusahaan pertanian multinasional
diuntungkan dalam derita petani.
Awalnya, tiga tahun
sebelum program swasembada pangan di Sulsel (lappo ase), petani sebagian besar menolak penggunaan pupuk.[3]
Bahkan ketika pupuk dibagikan secara cuma-cuma oleh pemerintahan gubernur Andi
Odang (1978-1983), petani masih memandang sebelah mata penggunaan pupuk. Petani
hanya menaruh pupuk-pupuk pembagian pemerintah di kolong-kolong rumah. Barulah
setelah program lappo ase berjalan,
petani mau menggunakannya. Berikutnya, petani sendirilah yang meminta pupuk
dari pemerintah.
Sebagaimana pandangan
umum, kakao bukanlah tanaman asli desa Kompang. Hadirnya kakao kemudian
membutuhkan penyesuaian-penyesuaian karena harus beradaptasi dengan kondisi
ekologinya.
Ibarat anak, kakao
adalah anak emas. Apapun yang menjadi masalah dalam budidayanya, disingkirkan.
Bukan hanya pohon-pohon besar menjadi korban penebangan—karena menghambat
pertumbuhan kakao—tapi juga predator alami juga menjadi korban pestisida.
Perlakuan ini menyebabkan ketidakseimbangan ekologi. Maka, muncullah hama-hama
baru. Selain itu, penyemprotan dalam dosis tinggi menjadikan hama semakin kebal
karena telah terseleksi.
Tapi, apa sebenarnya
yang membuat petani kakao begitu teguh mempertahankan tanaman kakao? Padahal,
petani tahu bagaimana dampak yang akan dihadapinya dari model bertani ini—yang
tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.
Pala,
Alternatif atau Mimpi Baru?
DESEMBER 2011, aku melibatkan diri peroses suvey
rumah tangga di desa Kompang dan Gantarang. Menghitung pendapatan, belanja dan
ongkos proses bertani masyarakat. Semuanya aku catat berdasarkan daftar
pertanyaan.
Aku
sangat menikmati survey ini karena bisa berinteraksi langsung dengan
orang-orang baru. Sampel yang teracak, mengharuskan aku ke tempat yang belum
pernah kudatangi sebelumnya.
Survey
ini dilakukan dalam rangka penelitian untuk melihat tingkat ketahanan
masyarakat di tengah-tengah perubahan iklim yang terjadi.
Salah
satu pelajaran penting yang aku dapatkan adalah semakin banyak petani yang
mulai meninggalkan pupuk kimia. Selain alasan harga yang semakin tidak
terjangkau, juga karena tanaman kakao dan cengkeh yang tidak bisa lagi menjadi
sandaran ekonomi untuk mereka.
Sebelumnya,
kedua komoditi ini menjadi andalan karena harganya yang menjanjikan di pasaran.
Puncaknya adalah akhir 1990an, ketika krisi melanda sebagian besar
negara-negara di Asia Tenggara. Harga komoditi ekspor—salah satunya adalah
kakao—mendadak naik hingga di atas 10 ribu rupiah per kilogram.
Sebenarnya
kenaikan harga ini terjadi akibat naiknya nilai tukar mata uang asing, sehingga
jika ditukar dalam nilai tukar rupiah yang anjlok nilainya menjadi tinggi.
Mengingat bahwa komoditi ekspor diperdagangkan dengan mata uang asing.
Sebenarnya harga kakao saat itu bukannya meningkat tapi karena nilai rupiah
yang terlampau rendah.
Jauh
berbeda dengan saat sekarang, harga kakao semakin tidak mampu menutupi
kebutuhan petani. Diperparah pula usia pohon kakao di Kompang yang tidak produktif
lagi seperti dahulu.
Kondisi
ini memaksa petani untuk memangkas ongkos proses bertaninya, terutama untuk
konsumsi pupuk dan perstisida.
Tapi
tidak semua petani sepenuhnya meninggalkan konsumsi pupuk dan pestisida. Untuk
penggunaan pupuk, ada yang mengurangi volume penggunaan, ada yang mengurangi
intensitas waktunya dan ada yang sama sekali pasrah untuk tidak memupuknya
lagi. Berbeda lagi dengan penggunaan pestisida, petani hanya menggunakannya
untuk mengendalikan rumput yang tumbuh di sekitar kebun. Tidak ada lagi
penyemprotan hama untuk buah, daun maupun batang.
Kini
kakao tidak bisa lagi diharapkan. Hasan misalnya, di samping-samping poohon
kakao uzurnya kini telah disiapkan tanaman lain, seperti cengkeh, duren dan
aren. Berbeda lagi dengan Bahar. Dia lebih awal telah memprediksi masa depan
kakao di Kompang. Sebagai alternatif, kemudian dia mulai membudidayakan pala.
Sekarang Bahar menjadi
petani yang memiliki pohon pala paling banyak di Kompang. Bahkan banyak petani
lain tertarik dan membeli bibit pala darinya.
Yah,
pala kini mendapat ruang di lahan-lahan pertanian masyarakat desa Kompang. Siap
memegang tongkat estafet tanaman kakao yang terlalu tua untuk menghidupi
petani.
Beda
lagi dengan nasib cengkeh. Perubahan iklim yang terjadi di tahun 2011
menjadikan cengkeh gagal panen. Curah hujan yang tinggi membuat bunga cengkeh
enggan menguncup.
September
2010, hampir semua media menyoroti curah hujan yang tidak menentu di wilayah
barat Indonesia. Musim penghujan yang lebih panjang dari tahun sebelumnya. Seperti
yang dilansir Media Indonesia.com pada 16 september 2010. Laporan BMG
menyebutkan adanya penaikan suhu di permukaan laut berkisar 28-29 derajat
celcius. Hal ini menyebabkan menguapnya air laut.
Sebelumnya
Kompas.com juga telah memberitakan adanya anomali cuaca ini pada 30 Juni 2010.
peristiwa yang juga disebut dengan Madden-Julian Oscillation akan terjadi di
wilayah barat Indonesia, kemudian akan bergerak perlahan ke wilayah timur
Indonesia.
Anomali
cuaca ini kemudian juga terjadi di kabupaten Sinjai. Akibatnya, tidak atupun
cengkeh petani yang berbunga.
Di saat
kakao tidak bisa lagi membantu petani memenuhi kebutuhan ekonominya, harapan
pada cengkeh pun sirna. Pala pun belum bisa memberikan jawaban karena rata-rata
umur tanaman pala yang masih muda (belum berbuah).
Fakta-fakta
bahwa tanaman komoditi tidak bisa menjadikan petani berdaulat, satu persatu
bermunculan. Tapi mereka terlanjur bergantung dan sulit untuk melepaskan diri
dari kondisi yang semakin rumit.
Namun
tidak sedikit pula alternatif—untuk keluar dari masalah—yang bermunculan. Mulai
dari memperbaiki pohon kakao (pemangkasan, sambung samping dan menanam bibit
baru), membuat tanaman sela (pisang dan kacang-kacangan), menanam atau merawat
kembali buah-buahan (langsat, durian, rambutan dan mangga), menanam pohon kayu
sampai mencari penghasilan lain di luar desa (sebagai buruh bangunan).
Ancaman
krisis pangan telah begitu nampak. Di sisi lain, petani telah terbiasa membeli
sebagian besar pangan mereka. Pilihan untuk kembali memproduksi kebutuhan
pangan membutuhkan pengorbanan besar—harus menyisihkan sebagian lahan tanaman
komoditinya untuk ditanam kembali dengan tanaman pangan.[]
[1] Focus
Group Discussion kelompok tani desa Gantarang, tanggal 25 November 2011.
[2] Li, T.M.
(2002) Proses Transformasi daerah pedalaman di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
[3] Walaupun
paket pupuk kimia dalam program Lappo Ase menitikberatkan pada tanaman padi,
tapi konteks ini menjadi awal persentuhan petani Kompang dengan pupuk kimia.
Dampaknya adalah penggunaan pupuk kimia untuk budidaya jenis tanaman lain
seperti jagung, cengkeh dan kakao.



0 komentar:
Posting Komentar