Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 23 Januari 2012

Anak Emas Petani Terjajah


# Sketsa Ekologi Desa Kompang Bagian 2

Mendadak Cengkeh

PERANTAU punya segudang cerita, mulai dari yang lucu hingga menyedihkan. Biasanya, obrolan akan semakin ramai ketika sesama perantau berkumpul. Saling berlomba memaparkan pengalaman-pengalaman mengais nafkah di kampung seberang.

            Dua orang perantau, Asikin (60 tahun),  Basri (46 tahun) malam itu sedang berkumpul. Beberapa orang lainnya—mereka yang jauh lebih muda dari Asikin dan Basri—menjadi pendengarnya. Jadilah  suasana rumah riuh dan sesak oleh suara gelak tawa. Sesekali mereka terbahak serentak di akhir salah satu bagian cerita.

            Suasana menjadi lebih sempurna ketika rombongan cangkir berisi kopi diletakkan satu persatu di tengah-tengah meja. Tidak lama, aroma pisang goreng mendahului datang untuk dihidu. Maka semakin penuhlah meja dengan makanan dan minuman pelengkap cerita malam itu.

            Cerita pengantar yang menarik—sebelum kisah cengkeh dan kakao hadir—adalah lelucon Asikin saat merantau di Menado. Dia bercerita tentang perempuan-perempuan dari gunung yang datang ke kota. Perempuan-perempuan gunung menjadi ini menjadi sasaran banyak laki-laki, termasuk Asikin. Laki-laki ini tidak perduli dengan tampilan perempuan gunung yang “kampungan” atau wajah yang kurang menarik. Itu urusan nomor dua. Hal paling penting, karena perempuan-perempuan gunung memiliki banyak uang dari hasil penjualan cengkehnya. Setelah mendapatkan uangnya, kemudian perempuan gunung akan ditinggalkan. Yah, cengkeh memang sedang berjaya di Menado pada tengah dekade 1970an.

            Dari Menadolah awal Asikin mendapat informasi mengenai tanaman cengkeh, kemudian mencobanya di kampung halamannya, desa Kompang, kabupaten Sinjai.

            Tahun 1977 Asikin mulai membudidayakan cengkeh. Pengetahuan menyemai hingga pembibitan menjadi modal utama.

Saat itu benih cengkeh harganya masih 25 rupiah. Jika sudah menjadi bibit, maka harganya akan semakin tinggi. Untuk bibit yang telah memiliki dua lembar daun harganya 250 rupiah. Uuntuk bibit dengan empat lembar daun harganya 500 rupiah. Tidak banyak petani yang mengetahui jenis cengkeh yang mereka dapatkan. Namun dari beberapa cerita, di peti kemasan benih tertulis kata “Bogor”. Dari situlah mereka menyebutnya sebagai Bibit Bogor.

Hampir sama dengan cerita petani-petani di desa Gantarang, hanya saja menurut mereka cengkeh masuk sejak tahun 1971. Tanaman cengkeh merupakan salah satu program pertanian pemerintah pusat yang masuk melalui kepala-kepala desa. Satu kepala desa diberikan satu peti benih (1000 benih) untuk dibudidayakan menjadi bibit. Sayangnya di Gantarang, dari seribu benih yang disemai hanya sekitar 20 bibit yang tumbuh. Lebih parah lagi, tidak ada satupun—dari 20 bibit tadi—yang berhasil tumbuh menjadi pohon cengkeh dewasa.[1]

Karena belum ada yang berhasil membudidayakan tanaman cengkeh di desa Kompang, maka tidak banyak petani yang mau melirik cengkeh.

Rupanya kepala desa belum kapok. Sekira 1977, kepala desa kembali membeli dua peti benih Cengkeh Bogor di Makassar. Hasilnya cukup memuaskan. Satu persatu petani mulai mencoba menanam cengkeh, apalagi setelah beredarnya banyak cerita sukses tanaman cengkeh dari tempat lain. Tanaman cengkeh yang kabarnya menjanjikan keuntungan secara ekonomi. Kabar dari perantau-perantau yang pulang kampung.

Masuk awal 1980, cengkeh mulai populer di Kompang. Petani mulai memupuk dan menyemprot cengkehnya. “Pupuk tiga serangkai” menjadi andalan, Urea, TSP dan NPK. Pupuk dan pestisida ini satu paket dengan bibit yang disebarkan pemerintah ke banyak desa di kabupaten Sinjai, salah satunya Kompang, kecamatan Sinjai Tengah.

Apa yang terjadi di Kompang merupakan salah satu dampak dari perubahan orientasi kebijakan pertanian di Indonesia. Kebijakan pertanian yang coba banting stir untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kebijakan pertanian ini lebih berorientasi pada modernisasi pertanian, percepatan produksi serta liberalisasi perdagangan untuk hasil-hasil bumi. Salah satunya adalah sistem perkebunan yang berpatok pada komoditi ekspor. Padahal, sebelumnya pola pertaniannya adalah untuk pemenuhan kebutuhan pokok.[2]

Kebijakan pertanian yang tidak berpihak pada rakyat ini tidak lepas pula dari kepentingan kapitalis global yang berdiri di belakang WTO, IMF dan World Bank. Menggerakkan pemerintahan boneka dengan dalih liberalisasi pasar sebagai sebuah kebutuhan bersama masyarakat dunia.

Manis-Pahitnya Cokelat

MELIHAT jemuran biji kakao di sepanjang badan jalan desa sama halnya melihat barisan rumah-rumah penduduk. Bisa dikatakan, hampir setiap rumah tangga memiliki kebun kakao untuk sandaran ekonomi. Kondisi alam yang berbukit-bukit membuat rumah-rumah tidak memiliki halaman luas untuk penjemuran.

Tapi kini hadir masalah dengan sandaran ekonomi petani Kompang. Bukan hanya biji kakao saja yang kering, tapi juga daun berikut pohonnya ikut kering dimakan usia. Kondisi ini diperparah pula dengan kondisi ekologi yang berubah.

Ada banyak faktor yang menjadikan kondisi ekologi menjadi tidak seimbang. Faktor yang paling nampak adalah peralihan fungsi lahan perkebunan secara besar-besaran di awal tahun 1980. Semakin digemarinya cengkeh dan masuknya kakao memacu petani untuk memberi ruang yang lebih pada dua jenis tanaman komoditi tersebut.

Masuknya faham modernisasi pertanian—juga dorongan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang konsumtif—mengharuskan petani cengkeh dan kakao memberikan pupuk kimia dan pestisida berlebih pada tanaman.

Tanaman jangka panjang juga terus menghisap unsur hara dalam tanah dan tidak memberi kesempatan tanah untuk beristirahat. Sebagai jalan pintas, pupuk kimia adalah suplemen tanaman yang bisa menjawab keterdesakan petani. Di sisi lain, pupuk kimia menjadikan petani bergantung dengan produk pertanian yang belum bisa dihasilkannya sendiri. Membeli adalah jawabannya. Sekali lagi, perusahaan pertanian multinasional diuntungkan dalam derita petani.

Awalnya, tiga tahun sebelum program swasembada pangan di Sulsel (lappo ase), petani sebagian besar menolak penggunaan pupuk.[3] Bahkan ketika pupuk dibagikan secara cuma-cuma oleh pemerintahan gubernur Andi Odang (1978-1983), petani masih memandang sebelah mata penggunaan pupuk. Petani hanya menaruh pupuk-pupuk pembagian pemerintah di kolong-kolong rumah. Barulah setelah program lappo ase berjalan, petani mau menggunakannya. Berikutnya, petani sendirilah yang meminta pupuk dari pemerintah.

Sebagaimana pandangan umum, kakao bukanlah tanaman asli desa Kompang. Hadirnya kakao kemudian membutuhkan penyesuaian-penyesuaian karena harus beradaptasi dengan kondisi ekologinya.

Ibarat anak, kakao adalah anak emas. Apapun yang menjadi masalah dalam budidayanya, disingkirkan. Bukan hanya pohon-pohon besar menjadi korban penebangan—karena menghambat pertumbuhan kakao—tapi juga predator alami juga menjadi korban pestisida. Perlakuan ini menyebabkan ketidakseimbangan ekologi. Maka, muncullah hama-hama baru. Selain itu, penyemprotan dalam dosis tinggi menjadikan hama semakin kebal karena telah terseleksi.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat petani kakao begitu teguh mempertahankan tanaman kakao? Padahal, petani tahu bagaimana dampak yang akan dihadapinya dari model bertani ini—yang tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.

Pala, Alternatif atau Mimpi Baru?

DESEMBER 2011, aku melibatkan diri peroses suvey rumah tangga di desa Kompang dan Gantarang. Menghitung pendapatan, belanja dan ongkos proses bertani masyarakat. Semuanya aku catat berdasarkan daftar pertanyaan.

            Aku sangat menikmati survey ini karena bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang baru. Sampel yang teracak, mengharuskan aku ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya.

            Survey ini dilakukan dalam rangka penelitian untuk melihat tingkat ketahanan masyarakat di tengah-tengah perubahan iklim yang terjadi.

            Salah satu pelajaran penting yang aku dapatkan adalah semakin banyak petani yang mulai meninggalkan pupuk kimia. Selain alasan harga yang semakin tidak terjangkau, juga karena tanaman kakao dan cengkeh yang tidak bisa lagi menjadi sandaran ekonomi untuk mereka.

            Sebelumnya, kedua komoditi ini menjadi andalan karena harganya yang menjanjikan di pasaran. Puncaknya adalah akhir 1990an, ketika krisi melanda sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Harga komoditi ekspor—salah satunya adalah kakao—mendadak naik hingga di atas 10 ribu rupiah per kilogram.

            Sebenarnya kenaikan harga ini terjadi akibat naiknya nilai tukar mata uang asing, sehingga jika ditukar dalam nilai tukar rupiah yang anjlok nilainya menjadi tinggi. Mengingat bahwa komoditi ekspor diperdagangkan dengan mata uang asing. Sebenarnya harga kakao saat itu bukannya meningkat tapi karena nilai rupiah yang terlampau rendah.

            Jauh berbeda dengan saat sekarang, harga kakao semakin tidak mampu menutupi kebutuhan petani. Diperparah pula usia pohon kakao di Kompang yang tidak produktif lagi seperti dahulu.

            Kondisi ini memaksa petani untuk memangkas ongkos proses bertaninya, terutama untuk konsumsi pupuk dan perstisida.

            Tapi tidak semua petani sepenuhnya meninggalkan konsumsi pupuk dan pestisida. Untuk penggunaan pupuk, ada yang mengurangi volume penggunaan, ada yang mengurangi intensitas waktunya dan ada yang sama sekali pasrah untuk tidak memupuknya lagi. Berbeda lagi dengan penggunaan pestisida, petani hanya menggunakannya untuk mengendalikan rumput yang tumbuh di sekitar kebun. Tidak ada lagi penyemprotan hama untuk buah, daun maupun batang.

            Kini kakao tidak bisa lagi diharapkan. Hasan misalnya, di samping-samping poohon kakao uzurnya kini telah disiapkan tanaman lain, seperti cengkeh, duren dan aren. Berbeda lagi dengan Bahar. Dia lebih awal telah memprediksi masa depan kakao di Kompang. Sebagai alternatif, kemudian dia mulai membudidayakan pala.

Sekarang Bahar menjadi petani yang memiliki pohon pala paling banyak di Kompang. Bahkan banyak petani lain tertarik dan membeli bibit pala darinya.

            Yah, pala kini mendapat ruang di lahan-lahan pertanian masyarakat desa Kompang. Siap memegang tongkat estafet tanaman kakao yang terlalu tua untuk menghidupi petani.

            Beda lagi dengan nasib cengkeh. Perubahan iklim yang terjadi di tahun 2011 menjadikan cengkeh gagal panen. Curah hujan yang tinggi membuat bunga cengkeh enggan menguncup.

            September 2010, hampir semua media menyoroti curah hujan yang tidak menentu di wilayah barat Indonesia. Musim penghujan yang lebih panjang dari tahun sebelumnya. Seperti yang dilansir Media Indonesia.com pada 16 september 2010. Laporan BMG menyebutkan adanya penaikan suhu di permukaan laut berkisar 28-29 derajat celcius. Hal ini menyebabkan menguapnya air laut.

            Sebelumnya Kompas.com juga telah memberitakan adanya anomali cuaca ini pada 30 Juni 2010. peristiwa yang juga disebut dengan Madden-Julian Oscillation akan terjadi di wilayah barat Indonesia, kemudian akan bergerak perlahan ke wilayah timur Indonesia.

            Anomali cuaca ini kemudian juga terjadi di kabupaten Sinjai. Akibatnya, tidak atupun cengkeh petani yang berbunga.

            Di saat kakao tidak bisa lagi membantu petani memenuhi kebutuhan ekonominya, harapan pada cengkeh pun sirna. Pala pun belum bisa memberikan jawaban karena rata-rata umur tanaman pala yang masih muda (belum berbuah).

            Fakta-fakta bahwa tanaman komoditi tidak bisa menjadikan petani berdaulat, satu persatu bermunculan. Tapi mereka terlanjur bergantung dan sulit untuk melepaskan diri dari kondisi yang semakin rumit.

            Namun tidak sedikit pula alternatif—untuk keluar dari masalah—yang bermunculan. Mulai dari memperbaiki pohon kakao (pemangkasan, sambung samping dan menanam bibit baru), membuat tanaman sela (pisang dan kacang-kacangan), menanam atau merawat kembali buah-buahan (langsat, durian, rambutan dan mangga), menanam pohon kayu sampai mencari penghasilan lain di luar desa (sebagai buruh bangunan).

            Ancaman krisis pangan telah begitu nampak. Di sisi lain, petani telah terbiasa membeli sebagian besar pangan mereka. Pilihan untuk kembali memproduksi kebutuhan pangan membutuhkan pengorbanan besar—harus menyisihkan sebagian lahan tanaman komoditinya untuk ditanam kembali dengan tanaman pangan.[]


[1] Focus Group Discussion kelompok tani desa Gantarang, tanggal 25 November 2011.
[2] Li, T.M. (2002) Proses Transformasi daerah pedalaman di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
[3] Walaupun paket pupuk kimia dalam program Lappo Ase menitikberatkan pada tanaman padi, tapi konteks ini menjadi awal persentuhan petani Kompang dengan pupuk kimia. Dampaknya adalah penggunaan pupuk kimia untuk budidaya jenis tanaman lain seperti jagung, cengkeh dan kakao.


0 komentar:

Posting Komentar