Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 13 Februari 2012

Usaha Anak Mengurangi Risiko Bencana



“HUTAN LINDUNG pada konteks sekarang, sudah seharusnya kita mengubahnya menjadi LINDUNGI HUTAN! Hubungan yang lebih menguntungkan antara hutan dengan manusia. Bukan merugikan salah satunya.”

Dua penggalan kalimat Asikin Pella (60 tahun) di atas menjadi pesan awal dalam diskusi Kelompok Tani Sipakatau dengan puluhan peserta dari SMPN SATAP Karangko 5 Februari 2012. Berawal dari inisiatif warga, kemudian mendorong sekolah dan kelompok masyarakat lain menggelar diskusi terbuka di dalam kawasan Hutan Lindung Desa Kompang. Peserta yang sebagian besar adalah murid kelas VII, VIII dan IX antusias mengikuti kegiatan. Diskusi ini merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan penanaman pohon yang bertema “Usaha Anak Mengurangi Risiko Bencana”.

*

BUNGENG & RAMAE merupakan kawasan hutan yang letaknya berdampingan, tidak terpisah. Dulunya, menurut Asikin, pada zaman pemerintahan Belanda, dua kawasan ini memiliki luas sekitar 500 hektar. Sekarang, lanjutnya, luas itu bertambah. Sayang sekali, Asikin tidak bisa mengira-ngira sekarang luasnya berapa. Bahkan, Kepala Desa Kompang sampai aparat Dinas Kehutanan (yang hadir pada acara penanaman pohon) juga tak mengetahui pasti luasnya. Kawasan ini masuk dalam wilayah administrasi Desa Kompang, Bonto Lempangan, Patongko, Arbika, Bonto Salama dan Gantarang. Menurut Asikin, ada sekitar 300 hektar lahan kawasan hutannya masih memprihatinkan dan perlu dihijaukan kembali.

Sudah bermacam usaha PRB (Pengurangan Risiko Bencana) dilakukan di Desa Kompang, baik melalui pemerintah, inisiasi kelompok di masyarakat hingga organisasi kemasyarakatan yang bekerja di seputar lingkungan. Usaha-usaha tersebut di antaranya: Program KBR (Kebun Bibit Rakyat) oleh Dinas Kehutanan melalui kelompok-kelompok tani sejak 2010, SRP Payo-Payo dengan penanaman Pohon Aren bersama Kelompok Tani Sipakatau tahun 2008, SMPN SATAP Karangko dengan dengan Program Pendidikan Bencana 2011 hingga sekarang dan masih banyak usaha individu lain.

Awal 2012 ini, sekolah menyegarkan kembali usaha penghijauan kawasan hutan melalui Pendidikan Bencananya. Kali ini melibatkan lebih banyak lagi pihak di dalam masyarakat seperti Kelompok Tani Sipakatau, Pemerintah Desa, SRP Payo-Payo serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Kegiatan penghijauan tidak lepas dari peran guru SMPN yang menyisipkan Pendidikan Bencana ke dalam aktifitas OSIS—selain di dalam aktifitas belajar-mengajar di sekolah, baik mengintegrasikan dalam mata pelajaran yang sudah ada maupun sebagai mata pelajaran baru di Muatan Lokal. Lebih jauh lagi, Kasim (Guru SMPN SATAP Karangko) berencana menjadikan kegiatan ini bagian dari kegiatan rutin OSIS di sekolah. Kepala Sekolah pun mengiyakan rencana ini dan siap mendukung segala aktifitas OSIS selama kegiatan itu masih bersifat positif untuk siswa.

**

SATU TAHUN sudah penerapan Pendidikan Bencana dilakukan di SMPN SATAP Karangko. Gerakan sosial dipelopori oleh lima sekolah di Kabupaten Sinjai yakni 2 SMPN dan 3 SDN.[1] SRP Payo-Payo (organisasi jejaring Insist Yogyakarta) merupakan organisasi yang mendampingi proses Pendidikan Bencana hingga tahap evaluasi (rencananya akan dilakukan Februari 2012). Sejak persiapan hingga proses penerapan, sekolah terus coba melibatkan berbagai pihak di masyarakat guna memaksimalkan gerakan sosial ini. Tentunya ada beberapa pihak lain yang turut mendukung proses seperti Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Bakominfo dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sinjai.

Setelah melihat berbagai hambatan yang dihadapi—dari rekaman proses dari persiapan hingga penerapan—menimbang ‘pintu masuk’ PRB yang ‘pas’ pun dilakukan. Apakah akan menjadikannya sebagai mata pelajaran baru atau mengintegrasikannya saja. Mempertimbangkan begitu banyak hal, mulai dari bahan ajar yang kurang, proses penilaian yang sulit, penyesuaian praktek pembelajaran dengan dokumen-dokumen kurikulum (RPP dan Silabus), rumitnya menentukan standar kompetensi dan keberhasilan pembelajaran hingga bentuk laporan pendidikannya. Padahal ada bagian lain yang perlu menjadi bahan pertimbangan lainya seperti melihat proses dalam ranah metode pembelajaran.

Bukan bemaksud mengesampingkan ranah kurikulum ataupun kebijakan, tetapi hemat penulis perlu menyimak hal-hal yang langsung berhubungan proses belajar yakni pada metodenya. Sebaik apapun perangkat pendidikan yang ada (hukum dan konsep), jika metode penyampaiannya masih menggunakan model lama—porsi lebih banyak ceramah dan penugasan tertulis—maka sulit melihat perkembangan keberhasilan Pendidikan Bencana yang dilakukan.

Di sinilah Kasim coba menutupi kelemahan proses Pendidikan Bencana dengan mengembangkan model belajar, khususnya di kelas VII. Dia membawa anak-anak lebih dekat melihat dan mengenal lingkungan desa Kompang yang dipenuhi dengan ancaman tanah longsor. Membuat apa yang dipelajari murid menjadi lebih dekat dan nyata.

Bagi Kasim, PRB tidak cukup jika hanya dibicarakan dan direncanakan saja. Perlu melihat semua peluang agar anak-anak bisa memahami PRB dengan maksimal. Dari alasan tersebut Kasim mulai merancang strategi untuk mengintegrasikan PRB dalam mata pelajaran yang dia pegang yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. Proses belajarnya pun tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga mengunjungi langsung objek yang sedang dibahas.[2]

Anak-anak perlu mendapatkan pemahaman secara dini mengenai PRB agar bisa lebih maju di masa mendatang dalam menghadapi kejadian bencana yang bisa datang kapanpun.

Inisiatif Kasim ini kemudian bertemu ‘jalannya’ setelah Kelompok Tani Sipakatau dan Pemerintah Desa Kompang menyambut baik kerjasama penanaman pohon—sebagai bagian dari Pendidikan Bencana—yang diinisiasi oleh SMPN SATAP Karangko. Sebuah gerakan yang lebih luas dengan melibatkan lebih banyak kelompok di masyarakat dalam Usaha Pengurangan Risiko Bencana di Desa Kompang.

***

MINGGU pagi, pukul 08.30, peserta berkumpul setengah jam lebih awal dari kesepakatan. Beberapa anak mengkoordinir teman-temannya untuk mengambil bibit-bibit di tempat penangkaran milik Kelompok Tani Sipakatau. Setelahnya, guru mulai mengabsen peserta yang akan mengikuti kegiatan penanaman sekaligus mencatat jumlah bibit yang dibawa masing-masing peserta. Kurang lebih 120 peserta penanaman hadir yang terdiri dari 90 orang murid, 2 orang guru, 9 orang kelompok tani, dan 7 orang lainnya. Satu peserta kemudian membawa lebih dari 2 bibit. Jadi ada sekitar 300 bibit yang dibawa untuk ditanam.

Jalan menanjak menyambut peserta di awal perjalanan. Masyarakat membangun jalan beton ini pada 2008 silam melalui dana bantuan PNPM Mandiri. Jalan inilah yang membuka akses ke wilayah-wilayah terpencil Desa Kompang, seperti Pari-parigi, Patontongan dan Lappara.

Peserta melangkah satu persatu mengikuti jalan besar yang semakin mengecil menjadi jalan setapak. Dari kejauhan peserta nampak seperti rangkaian kereta api yang meliuk-liuk. Peserta pun mulai membaur dalam perjalanan ini, antara murid dan anggota kelompok tani maupun dengan masyarakat.

Pationgi menjadi titik penghijauannya. Tempat ini berada di Dusun Barugae, Desa kompang. Pada 2006 silam, Pationgi menjadi salah satu titik longsor. Walaupun wilayah sangat curam, peserta penghijauan masih bisa menjangkaunya. Semak-semak berduri masih mendominasi bukit-bukit dengan beberapa jenis pohon beragam jenis yang jaraknya tidak rapat. Jadi cukup beralasan jika pelaksana memilih Pationgi sebagai tempat pelaksanaan penanaman pohon.

Setiba di lokasi penanaman yang miring, anggota kelompok tani  bergegas untuk menebas semak sebelum peserta melaluinya. Beberapa lainnya mulai menggali tanah. Setelah menyingkirkan semak, masing-masing peserta mulai mencari lokasi terbaik untuk menanam bibit yang dibawa. Sesekali terdengar suara peringatan, baik dari guru maupun anggota kelompok tani, agar peserta memperhatikan jarak tanam. Sementara murid riuh sorai dalam kelompok-kelompoknya menikmati kegiatan penanaman mereka.

Dua hari sebelum kegiatan, sekolah memberikan pembekalan kepada murid-murid untuk mempermantap proses belajarnya. Salah satunya adalah memberikan penugasan agas mereka juga melakukan diskusi dengan anggota kelompok tani saat di lapangan. Mencatat jenis-jenis pohon yang ada di dalam hutan berikut klasifikasi pohon berdasarkan ciri-ciri fisiknya.

Lebih lanjut panitia membawa peserta ke tempat datar untuk melanjutkan diskusi. Sebagai pembuka, Ansar (Kepala Desa Kompang) memberikan sepatah kata untuk peserta sebelum membuka diskusi. Kemudian dilanjutkan oleh Asikin Pella (Ketua Kelompok Tani Sipakatau) dan salah seorang Alumni Fakultas Kehutanan Unhas yang bekerja di Forum Hutan Kemasyarakatan.

Diskusi berjalan dengan dinamis. Pembicara yang terdiri dari kelompok masyarakat, pemerintah desa dan tokoh-tokoh kemasyarakatan memaparkan penjelasan seputar masalah lingkungan dengan sangat sederhana. Peserta kemudian menanggapi serta melemparkan beberapa pertanyaan. Reski Oktaviani (14 tahun), yang juga sebagai Ketua Osis, mengawali pertanyaan seputar manfaat dari usaha menjaga kelestarian lingkungan. Selanjutnya, giliran murid-murid yang lain mengajukan pertanyaan.

Ada satu catatan penting dalam diskusi ini yakni mengenai usaha pengurangan risiko bencana dan usaha menghadapi perubahan iklim. Dua tema yang mendapat perhatian khusus bagi peserta walaupun sebenarnya masih sulit bagi murid seumuran mereka—kisaran 13 sampai 15 tahun—untuk memahami konsep-konsep yang dipaparkan.

Seusai melakukan diskusi, peserta segera membenahi perlengkapan mereka kembali untuk menuju bendungan. Tempat ini ditunjuk oleh mereka sebagai tempat beristirahat setelah beraktifitas seharian. Di antara mereka ada yang membawa perlengkapan memasak maupun bahan-bahan masakan—bahan mentah maupun makanan jadi.

Dari lokasi penanaman pohon, bendungan hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer saja. Bendungan ini memiliki pemandangan batu-batu alam berukuran ‘raksasa’ dengan selang seling pepohonan. Tempat ini awalnya adalah aliran sungai kecil yang jernih. Kemudian beberapa petani membendung air untuk mengatur alirannya. Kemudian air tersebut digunakan sebagai sumber irigasi persawahan. Namun beberapa tahun terakhir, tempat ini kerap menjadi tempat rekreasi bagi warga sekitar.

Menurut salah satu guru yang mendampingi, Ridwan, baru kali ini ada kegiatan di luar jam sekolah yang melibatkan seluruh siswa. Apalagi bentuknya adalah rekreasi. Anak-anak akan mengingat dengan baik keseluruhan proses karena kegiatan dikemas dengan santai.

Keseluruhan proses baru selesai menjelang sore, setelah masing-masing kelas menyelesaikan menu masakan yang mereka rencanakan. Sekitar pukul 15.10 WITA, rombongan kemudian meninggalkan tempat untuk kembali ke rumah masing-masing.[]


[1]  Ada lima sekolah yang menerapkan Pendidikan Bencana dalam skema program Membangun Gerakan Sosial Dalam Usaha Pengurangan Risiko Bencana. Tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Sinjai seperti SMPN SATAP Tassoso, SDN 66 Gantarang, SDN 122 Mangottong dan SDN 104 Kalaka.
[2]  Tanggal 21 September 2011 silam, Kasim membawa murid-muridnya menuju titik-titik longsor 2006. Di sana, murid membuat laporan perjalanannya. Laporan perjalanan ini merupakan tugas dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kasim mengintegrasikan PRB di dalamnya dengan mengangkat tema Bencana Longsor. Dari sini kemudian berlanjut pada tugas-tugas lain seperti pembuatan naskah derama dan mementaskannya (dijelaskan lebih jauh pada tulisan lainnya, ‘Pendidikan Bencana di Atas Tanah Longsor).

Selasa, 24 Januari 2012

Buaya di Pasar Terong



RAMBUTNYA sudah berubah menjadi sangat kuning kaku hingga angin tidak lagi sanggup membuatnya bergerak ke kiri dan ke kanan. Begitu kering berdiri tegap diatas kulit kepala. Dua hari lalu, dia menggunakan baju yang sama dengan hari ini, kemeja putih bergaris warna biru. Di sisi kanan dan kiri baju nampak bercak coklat kotoran bercampur keringat. Jika melihat anak seumur 5 tahun, bagian pipi adalah hal menarik yang ingin disentuh. Tetapi pipi Fajar tidak semulus pipi anak seumurnya karena pipi Fajar penuh dengan kotoran dan kasar.

Pagi hari, Fajar bersama Ibunya memasuki Pasar Terong. Dengan tergesa-gesa Ibunya berjalan cepat sambil menggandeng Fajar yang langkahnya terseok-seok mengikuti langkah Ibunya. Ibunya khawatir jika Fajar akan hilang seperti dua minggu yang lalu. Dari cerita seorang pemetik batang lombok rekan kerja Ibunya, Fajar tersesat saat bermain hingga ke wilayah jalan Cendrawasih. Jarak Pasar Terong ke Jalan Cendrawasih sekitar 2 Kilometer. Setelah Ibunya melapor ke Polisi, tersiar kabar bahwa Fajar sedang bersama salah satu anggota Polisi, tidak jauh dari tempat Fajar tersesat. Setelah kejadian tersebut, Ibunya tidak lagi membiarkan Fajar berjalan dalam keadaan terlepas dari genggaman tangannya.

Melihat umur Fajar yang beranjak 6 tahun, seharusnya dia bersekolah bersama teman-temannya yang lain. Namun Fajar masih saja terlihat asik bermain di Pasar Terong, tepatnya di wilayah tangga selatan gedung permanen pasar bersama anak-anak yang lebih muda dari umurnya.

Fajar dikenal dengan panggilan Buaya oleh pedagang di Pasar Terong. Menurut pedagang disana, saat kecil Fajar kerap mengguling-gulingkan badannya di tanah. Kelakuan tersebut mirip dengan Buaya yang sedang berjemur, sehingga Fajar akrab dipanggil dengan sebutan Buaya. Oleh karena melihat kondisi ekonomi keluarga Fajar yang kekurangan, banyak pedangan yang memberikan uang jajan kepada Fajar setiap harinya.

Selama masa penelitian etnografi pasar yang dilakukan AcSI (Active Society Institute) sejak bulan Januari 2009, Fajar kerap meluangkan waktu untuk menemani teman-teman peneliti bercerita dan berfoto. Karena begitu akrabnya Fajar dengan peneliti, Dia akan menanyakan kepada pedagang yang dikenalnya tentang keberadaan peneliti. “Dimana temanku?”, seperti itu Dia menanyakannya. Bahkan Fajar selalu menawarkan diri agar diajak bersama peneliti untuk menemaninya berkeliling pasar. Kata Ibunya, Fajar sangat ingin sekolah setingkat mahasiswa agar kelak bisa menjadi seorang peneliti.

Ada kebiasaan Fajar yang unik. Fajar juga sering kali memberikan makanannya yang hanya cukup untuk dirinya kepada peneliti AcSI. Kebiasaan berbagi ini telah meghadirkan ikatan emosional yang dalam antara Fajar dan peneliti AcSI. Sebagai imbalan, biasanya Fajar meminta dirinya untuk difoto. Fajar memanggil para peneliti dengan satu panggilan yang seragam, “Teman”.

Lingkungan pasar telah menjadi arena bermain bagi Fajar dan anak-anak lainnya. Lingkungan dimana mereka tumbuh besar bersama keterampilan bertahan hidup dari keterpurukan ekonomi keluarga. Keterampilan yang diturunkan oleh orang tua mereka. Bagaimana cara menghidupi diri dengan pendidikan yang pas-pasan. Saat keluar dari lingkungan pasar itu, Fajar ditodong oleh tutuntutan status pendidikan formal untuk bekerja.

Pernah suatu kali, buaya diperintahkan oleh temannya untuk mencuri pakaian di salah satu pedagang di dalam gedung. Menurut Fajar, dia diancam akan dipukuli jika tidak mengikuti perintah tersebut. Oleh karena sikap jujur yang Fajar pegang, saat berhasil menyerahkan pakaian curian kepada temannya, dia melaporkan kepada pendagang tersebut bahwa dia baru saja mencuri pakaiannya. Karena iba melihat sikap tersebut, pedagang itu memaafkannya, kemudian menasehati Fajar agar tidak mengulanginya lagi. Inilah sekolah informal yang menuntut anak-anak seperti Fajar memegang teguh sikap jujur, sama halnya yang diajarkan oleh sekolah-sekolah formal. Hanya karena permasalahan uang, Fajar tidak mengikuti sekolah formal milik pemerintah.

Secara alamiah, sistem yang terbentuk di dalam lingkungan pasar telah membentuk nilai-nilai. Secara tegas, sistem ini mendidik orang-orang di dalamnya untuk mengikuti, termasuk Fajar anak pasar lokal ini. Sistem ini telah berjalan selama puluhan tahun, seiring dengan perkembangan masyarakat di luarnya. Sebuah lingkungan yang menjadikan Fajar menikmati masa kecil dengan pendidikan informal yang ditawarkan oleh masyarakat pasar.

Fajar adalah salah satu produk pendidikan informal pasar lokal. Pasar lokal yang dianggap banyak kalangan sebagai tempat menjamurnya prilaku kriminal ternyata ditentang oleh realitas kehidupan Fajar. Namun tidak berimbang pula jika melihatnya sebagai sesuatu yang sangat ideal, karena tidak dapat dipungkiri dalam sebuah kelompok masyarakat pasti ada penentangan atas nilai-nilai yang berlaku. Inilah yang perlu untuk dikaji, mengingat minimnya perhatian terhadap pasar lokal. Regulasi yang adapun masih sangat mencolok dalam menganaktirikan pasar lokal. Sementara pasar lokal sebagai sebuah kenyataan sosial, terus mereproduksi nilai-nilai positif yang bermanfaat. Fajar adalah alumni sekolah informal pasar lokal yang patut mendapat hak yang sama dengan anak-anak yang belajar di sekolah formal milik pemerintah.[]


Senin, 23 Januari 2012

Anak Emas Petani Terjajah


# Sketsa Ekologi Desa Kompang Bagian 2

Mendadak Cengkeh

PERANTAU punya segudang cerita, mulai dari yang lucu hingga menyedihkan. Biasanya, obrolan akan semakin ramai ketika sesama perantau berkumpul. Saling berlomba memaparkan pengalaman-pengalaman mengais nafkah di kampung seberang.

            Dua orang perantau, Asikin (60 tahun),  Basri (46 tahun) malam itu sedang berkumpul. Beberapa orang lainnya—mereka yang jauh lebih muda dari Asikin dan Basri—menjadi pendengarnya. Jadilah  suasana rumah riuh dan sesak oleh suara gelak tawa. Sesekali mereka terbahak serentak di akhir salah satu bagian cerita.

            Suasana menjadi lebih sempurna ketika rombongan cangkir berisi kopi diletakkan satu persatu di tengah-tengah meja. Tidak lama, aroma pisang goreng mendahului datang untuk dihidu. Maka semakin penuhlah meja dengan makanan dan minuman pelengkap cerita malam itu.

            Cerita pengantar yang menarik—sebelum kisah cengkeh dan kakao hadir—adalah lelucon Asikin saat merantau di Menado. Dia bercerita tentang perempuan-perempuan dari gunung yang datang ke kota. Perempuan-perempuan gunung menjadi ini menjadi sasaran banyak laki-laki, termasuk Asikin. Laki-laki ini tidak perduli dengan tampilan perempuan gunung yang “kampungan” atau wajah yang kurang menarik. Itu urusan nomor dua. Hal paling penting, karena perempuan-perempuan gunung memiliki banyak uang dari hasil penjualan cengkehnya. Setelah mendapatkan uangnya, kemudian perempuan gunung akan ditinggalkan. Yah, cengkeh memang sedang berjaya di Menado pada tengah dekade 1970an.

            Dari Menadolah awal Asikin mendapat informasi mengenai tanaman cengkeh, kemudian mencobanya di kampung halamannya, desa Kompang, kabupaten Sinjai.

            Tahun 1977 Asikin mulai membudidayakan cengkeh. Pengetahuan menyemai hingga pembibitan menjadi modal utama.

Saat itu benih cengkeh harganya masih 25 rupiah. Jika sudah menjadi bibit, maka harganya akan semakin tinggi. Untuk bibit yang telah memiliki dua lembar daun harganya 250 rupiah. Uuntuk bibit dengan empat lembar daun harganya 500 rupiah. Tidak banyak petani yang mengetahui jenis cengkeh yang mereka dapatkan. Namun dari beberapa cerita, di peti kemasan benih tertulis kata “Bogor”. Dari situlah mereka menyebutnya sebagai Bibit Bogor.

Hampir sama dengan cerita petani-petani di desa Gantarang, hanya saja menurut mereka cengkeh masuk sejak tahun 1971. Tanaman cengkeh merupakan salah satu program pertanian pemerintah pusat yang masuk melalui kepala-kepala desa. Satu kepala desa diberikan satu peti benih (1000 benih) untuk dibudidayakan menjadi bibit. Sayangnya di Gantarang, dari seribu benih yang disemai hanya sekitar 20 bibit yang tumbuh. Lebih parah lagi, tidak ada satupun—dari 20 bibit tadi—yang berhasil tumbuh menjadi pohon cengkeh dewasa.[1]

Karena belum ada yang berhasil membudidayakan tanaman cengkeh di desa Kompang, maka tidak banyak petani yang mau melirik cengkeh.

Rupanya kepala desa belum kapok. Sekira 1977, kepala desa kembali membeli dua peti benih Cengkeh Bogor di Makassar. Hasilnya cukup memuaskan. Satu persatu petani mulai mencoba menanam cengkeh, apalagi setelah beredarnya banyak cerita sukses tanaman cengkeh dari tempat lain. Tanaman cengkeh yang kabarnya menjanjikan keuntungan secara ekonomi. Kabar dari perantau-perantau yang pulang kampung.

Masuk awal 1980, cengkeh mulai populer di Kompang. Petani mulai memupuk dan menyemprot cengkehnya. “Pupuk tiga serangkai” menjadi andalan, Urea, TSP dan NPK. Pupuk dan pestisida ini satu paket dengan bibit yang disebarkan pemerintah ke banyak desa di kabupaten Sinjai, salah satunya Kompang, kecamatan Sinjai Tengah.

Apa yang terjadi di Kompang merupakan salah satu dampak dari perubahan orientasi kebijakan pertanian di Indonesia. Kebijakan pertanian yang coba banting stir untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kebijakan pertanian ini lebih berorientasi pada modernisasi pertanian, percepatan produksi serta liberalisasi perdagangan untuk hasil-hasil bumi. Salah satunya adalah sistem perkebunan yang berpatok pada komoditi ekspor. Padahal, sebelumnya pola pertaniannya adalah untuk pemenuhan kebutuhan pokok.[2]

Kebijakan pertanian yang tidak berpihak pada rakyat ini tidak lepas pula dari kepentingan kapitalis global yang berdiri di belakang WTO, IMF dan World Bank. Menggerakkan pemerintahan boneka dengan dalih liberalisasi pasar sebagai sebuah kebutuhan bersama masyarakat dunia.

Manis-Pahitnya Cokelat

MELIHAT jemuran biji kakao di sepanjang badan jalan desa sama halnya melihat barisan rumah-rumah penduduk. Bisa dikatakan, hampir setiap rumah tangga memiliki kebun kakao untuk sandaran ekonomi. Kondisi alam yang berbukit-bukit membuat rumah-rumah tidak memiliki halaman luas untuk penjemuran.

Tapi kini hadir masalah dengan sandaran ekonomi petani Kompang. Bukan hanya biji kakao saja yang kering, tapi juga daun berikut pohonnya ikut kering dimakan usia. Kondisi ini diperparah pula dengan kondisi ekologi yang berubah.

Ada banyak faktor yang menjadikan kondisi ekologi menjadi tidak seimbang. Faktor yang paling nampak adalah peralihan fungsi lahan perkebunan secara besar-besaran di awal tahun 1980. Semakin digemarinya cengkeh dan masuknya kakao memacu petani untuk memberi ruang yang lebih pada dua jenis tanaman komoditi tersebut.

Masuknya faham modernisasi pertanian—juga dorongan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang konsumtif—mengharuskan petani cengkeh dan kakao memberikan pupuk kimia dan pestisida berlebih pada tanaman.

Tanaman jangka panjang juga terus menghisap unsur hara dalam tanah dan tidak memberi kesempatan tanah untuk beristirahat. Sebagai jalan pintas, pupuk kimia adalah suplemen tanaman yang bisa menjawab keterdesakan petani. Di sisi lain, pupuk kimia menjadikan petani bergantung dengan produk pertanian yang belum bisa dihasilkannya sendiri. Membeli adalah jawabannya. Sekali lagi, perusahaan pertanian multinasional diuntungkan dalam derita petani.

Awalnya, tiga tahun sebelum program swasembada pangan di Sulsel (lappo ase), petani sebagian besar menolak penggunaan pupuk.[3] Bahkan ketika pupuk dibagikan secara cuma-cuma oleh pemerintahan gubernur Andi Odang (1978-1983), petani masih memandang sebelah mata penggunaan pupuk. Petani hanya menaruh pupuk-pupuk pembagian pemerintah di kolong-kolong rumah. Barulah setelah program lappo ase berjalan, petani mau menggunakannya. Berikutnya, petani sendirilah yang meminta pupuk dari pemerintah.

Sebagaimana pandangan umum, kakao bukanlah tanaman asli desa Kompang. Hadirnya kakao kemudian membutuhkan penyesuaian-penyesuaian karena harus beradaptasi dengan kondisi ekologinya.

Ibarat anak, kakao adalah anak emas. Apapun yang menjadi masalah dalam budidayanya, disingkirkan. Bukan hanya pohon-pohon besar menjadi korban penebangan—karena menghambat pertumbuhan kakao—tapi juga predator alami juga menjadi korban pestisida. Perlakuan ini menyebabkan ketidakseimbangan ekologi. Maka, muncullah hama-hama baru. Selain itu, penyemprotan dalam dosis tinggi menjadikan hama semakin kebal karena telah terseleksi.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat petani kakao begitu teguh mempertahankan tanaman kakao? Padahal, petani tahu bagaimana dampak yang akan dihadapinya dari model bertani ini—yang tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.

Pala, Alternatif atau Mimpi Baru?

DESEMBER 2011, aku melibatkan diri peroses suvey rumah tangga di desa Kompang dan Gantarang. Menghitung pendapatan, belanja dan ongkos proses bertani masyarakat. Semuanya aku catat berdasarkan daftar pertanyaan.

            Aku sangat menikmati survey ini karena bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang baru. Sampel yang teracak, mengharuskan aku ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya.

            Survey ini dilakukan dalam rangka penelitian untuk melihat tingkat ketahanan masyarakat di tengah-tengah perubahan iklim yang terjadi.

            Salah satu pelajaran penting yang aku dapatkan adalah semakin banyak petani yang mulai meninggalkan pupuk kimia. Selain alasan harga yang semakin tidak terjangkau, juga karena tanaman kakao dan cengkeh yang tidak bisa lagi menjadi sandaran ekonomi untuk mereka.

            Sebelumnya, kedua komoditi ini menjadi andalan karena harganya yang menjanjikan di pasaran. Puncaknya adalah akhir 1990an, ketika krisi melanda sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Harga komoditi ekspor—salah satunya adalah kakao—mendadak naik hingga di atas 10 ribu rupiah per kilogram.

            Sebenarnya kenaikan harga ini terjadi akibat naiknya nilai tukar mata uang asing, sehingga jika ditukar dalam nilai tukar rupiah yang anjlok nilainya menjadi tinggi. Mengingat bahwa komoditi ekspor diperdagangkan dengan mata uang asing. Sebenarnya harga kakao saat itu bukannya meningkat tapi karena nilai rupiah yang terlampau rendah.

            Jauh berbeda dengan saat sekarang, harga kakao semakin tidak mampu menutupi kebutuhan petani. Diperparah pula usia pohon kakao di Kompang yang tidak produktif lagi seperti dahulu.

            Kondisi ini memaksa petani untuk memangkas ongkos proses bertaninya, terutama untuk konsumsi pupuk dan perstisida.

            Tapi tidak semua petani sepenuhnya meninggalkan konsumsi pupuk dan pestisida. Untuk penggunaan pupuk, ada yang mengurangi volume penggunaan, ada yang mengurangi intensitas waktunya dan ada yang sama sekali pasrah untuk tidak memupuknya lagi. Berbeda lagi dengan penggunaan pestisida, petani hanya menggunakannya untuk mengendalikan rumput yang tumbuh di sekitar kebun. Tidak ada lagi penyemprotan hama untuk buah, daun maupun batang.

            Kini kakao tidak bisa lagi diharapkan. Hasan misalnya, di samping-samping poohon kakao uzurnya kini telah disiapkan tanaman lain, seperti cengkeh, duren dan aren. Berbeda lagi dengan Bahar. Dia lebih awal telah memprediksi masa depan kakao di Kompang. Sebagai alternatif, kemudian dia mulai membudidayakan pala.

Sekarang Bahar menjadi petani yang memiliki pohon pala paling banyak di Kompang. Bahkan banyak petani lain tertarik dan membeli bibit pala darinya.

            Yah, pala kini mendapat ruang di lahan-lahan pertanian masyarakat desa Kompang. Siap memegang tongkat estafet tanaman kakao yang terlalu tua untuk menghidupi petani.

            Beda lagi dengan nasib cengkeh. Perubahan iklim yang terjadi di tahun 2011 menjadikan cengkeh gagal panen. Curah hujan yang tinggi membuat bunga cengkeh enggan menguncup.

            September 2010, hampir semua media menyoroti curah hujan yang tidak menentu di wilayah barat Indonesia. Musim penghujan yang lebih panjang dari tahun sebelumnya. Seperti yang dilansir Media Indonesia.com pada 16 september 2010. Laporan BMG menyebutkan adanya penaikan suhu di permukaan laut berkisar 28-29 derajat celcius. Hal ini menyebabkan menguapnya air laut.

            Sebelumnya Kompas.com juga telah memberitakan adanya anomali cuaca ini pada 30 Juni 2010. peristiwa yang juga disebut dengan Madden-Julian Oscillation akan terjadi di wilayah barat Indonesia, kemudian akan bergerak perlahan ke wilayah timur Indonesia.

            Anomali cuaca ini kemudian juga terjadi di kabupaten Sinjai. Akibatnya, tidak atupun cengkeh petani yang berbunga.

            Di saat kakao tidak bisa lagi membantu petani memenuhi kebutuhan ekonominya, harapan pada cengkeh pun sirna. Pala pun belum bisa memberikan jawaban karena rata-rata umur tanaman pala yang masih muda (belum berbuah).

            Fakta-fakta bahwa tanaman komoditi tidak bisa menjadikan petani berdaulat, satu persatu bermunculan. Tapi mereka terlanjur bergantung dan sulit untuk melepaskan diri dari kondisi yang semakin rumit.

            Namun tidak sedikit pula alternatif—untuk keluar dari masalah—yang bermunculan. Mulai dari memperbaiki pohon kakao (pemangkasan, sambung samping dan menanam bibit baru), membuat tanaman sela (pisang dan kacang-kacangan), menanam atau merawat kembali buah-buahan (langsat, durian, rambutan dan mangga), menanam pohon kayu sampai mencari penghasilan lain di luar desa (sebagai buruh bangunan).

            Ancaman krisis pangan telah begitu nampak. Di sisi lain, petani telah terbiasa membeli sebagian besar pangan mereka. Pilihan untuk kembali memproduksi kebutuhan pangan membutuhkan pengorbanan besar—harus menyisihkan sebagian lahan tanaman komoditinya untuk ditanam kembali dengan tanaman pangan.[]


[1] Focus Group Discussion kelompok tani desa Gantarang, tanggal 25 November 2011.
[2] Li, T.M. (2002) Proses Transformasi daerah pedalaman di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
[3] Walaupun paket pupuk kimia dalam program Lappo Ase menitikberatkan pada tanaman padi, tapi konteks ini menjadi awal persentuhan petani Kompang dengan pupuk kimia. Dampaknya adalah penggunaan pupuk kimia untuk budidaya jenis tanaman lain seperti jagung, cengkeh dan kakao.


Rabu, 18 Januari 2012

Bersama Hj. Dalleng

 Setengah jam aku menunggu di tengah pasar. Pukul 12.05 Wita, terlihat di layar handphonku saat menekan tombol-tombolnya.  Atap-atap pasar menguapkan sisa-sisa air karena panas. Mungkin beberapa jam lalu hujan menyiramnya. Mungkin juga ada segerombolan anak-anak melemparinya dengan air dalam plastik sisa jajanan mereka, atau ada ibu menumpahkan air sisa cucian pakaiannya di atap pasar. Aku bingung hendak bertanya kepada siapa tentang air yang menguap di atap-atap pasar ini, seperti kebingunganku harus bertanya kepada siapa awal mula hadirnya pasar.

Setengah jam sebelumnya, aku bersama Manji menyempatkan singgah di sebuah toko sepatu, depan pasar Todopuli, demikian mereka menyebut pasar berbentuk persegi itu. Yah, walaupun di papan tertulis Pasar Panakukang, tidak masalah bagiku, apapun namanya. Mungkin ini hanya perdebatan letak pasar yang berada di antara kecamatan Todopuli dan Panakukang.

Aku tidak sedang ingin membeli sepatu di toko itu. Hanya saja ada sepasang mata dan kulit cerah mengundangku untuk mendekatinya. Sepasang mata yang pemiliknya adalah seorang gadis dengan sehelai kertas cerah dan indah, seperti kulit yang mendekapnya. Sejenak, aku masih sempat membayangkan gadis itu masuk dalam film hayalanku, wajahnya begerak sangat lambat membentuk gurat-gurat senyum yang hebat. Tentunya diselingi snaph shoot, berfokus pada kibasan seikat rambut dan sedikit drama tetesan keringat berjatuhan dari leher berlikuk. Gadis itu sedang asik melayani pembeli di hadapannya. Ia sesekali mencuri pandang penuh curiga kearah rombonganku yang mendekat. Sedikit waspada, mungkin juga takut. Entahlah, apa yang dia fikirkan. Ocha dan Esha terpaksa mengikuti dari belakang. Memang aku dan Manji tidak memberi banyak pilihan kepada mereka berdua. Mereka mau saja menyertai tanpa banyak menanyakan tujuanku dan Manji. Akhirnya, dengan sedikit basa-basi, menanyakan harga sepatu, mencari barang yang tidak ada di toko itu, kemudian keluar setelah puas melihat kecantikan penjaganya. Kepuasan hadir berwujud senyum dan tawa. Kemudian masuk ketengah-tengah pasar, sembari menantikan rombongan ‘Tour The Pasar’ yang lain datang.

Memasuki gerbang, pria buncit dengan kacamata lebar menyambut kami. Pria itu berjalan mejinjit memamerkan badan yang tidak berbungkus apa-apa, mengkilap oleh keringat. Ia tertawa riang: menghibur sekawanan pedagang aksesoris di pinggiran gerbang. Suara riuh bersorak bercampur tawa berlarian. Aku hanya sempat tersenyum, malu-malu tanpa suara karena segan. Mungkin saja aku akan semengkilap pria itu, seandainya aku membuka baju, hangat udara terus mendorong keringat.

Di barisan kiri hamparan tertulis, “Pasar Sehat Percontohan, Hamparan Khusus Unggas”. Seperti mesin pemotong daging, gerakan pedagang tidak jauh berbeda. Mereka membelah ayam-ayam telanjang di meja masing-masing. “Tak tak tuk tak…”, suara pisau menyayat daging mulus, terus melaju membelah tulang keras dan terhenti saat menghantam talam kayu. Di sebelah kananku, anak-anak terbahak-bahak menyaksikan seorang teman mereka terperosok kedalam got kecil bersama sepedanya. Air hitam pekat dari got itu muncrat. Busuk dan menyengat. Di sebelahnya, ibu dengan dua anak bersemangat lomba tawar-menawar harga dengan pedagang, seakan keriuhan anak-anak tidak mengganggu sama sekali. Suara anak-anak berubah menjadi riuh suporter di pertandingan tawar menawar itu.

Manji tiba-tiba menghilang. Aku mencoba mencari. Kami terpisah. Kulirik sudut-sudut sulit di sela-sela sayuran, di antara gantungan plastik berisi bumbu dapur, di sudut ketiak pembeli yang asyik berjalan. Aku mencoba menangkap bayangan Manji, namun tidak kutemui. Lelah melirik, pandangan akhirnya jatuh di Esha. Esha tidak mau kalah dengan Manji. Dia mulai berpose di samping bak sampah. Seolah mendorong bak sampah, Esha memerintahkan Ais untuk segera mengambil gambarnya. Entah dari mana datangnya, Ais tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah pasar. Ia menenteng sebuah kamera digital di tangannya. Sedikit ragu, Ais coba membungkuk untuk mendapatkan posisi yang baik untuk mengambil gambar Esha yang menanti detik-detik pemotretan. Lampu blitz menyusuri seluruh ruang dengan cepat. Sangat menyilaukan mata. Kilau putihnya. Beberapa pedagang yang berada di sekitar Esha terkejut.Mereka nampak sedikit menyipitkan mata. Ais dan Esha mencuri banyak perhatian orang-orang. Mereka tidak perduli sama sekali, seakan telah akrab dengan lingkungan pasar. Aku yang lelah oleh perjalanan dan rasa sakit di gigiku mulai berburu posisi nyaman untuk beristirahat sejenak.

Aku tidak mendapatkan tugas khusus dalam program AcSI kali ini. Hanya pemandu sorak dengan tugas kecil mencari cerita-cerita unik di pasar yang dikunjungi. ‘Tour The Pasar’ kali ke tiga ini, ada dua pasar yang dikunjungi: pasar Karuwisi dan pasar Todopuli Makassar. Masing-masing peserta Tour bertugas mencari informasi terkait pasar, seperti, sejarah pasar, pengelolaan pasar, jenis dagangan, retribusi yang harus dibayar, masalah-masalah yang dihadapi pedagang dan cerita-cerita unik dari pedagang. Ais bertugas mendokumentasikan aktivitas. Bagaimana dengan Esha? Yah, dia sebenarnya punya program sendiri di Makassar. Dia datang jauh-jauh dari Padang untuk menyaksikan secara langsung kota yang dianggap “Kasar” oleh media mainstream, kemudian menuliskannya. Nama program yang diikuti Esha adalah Residensi Mahasiswa. Walaupun berbeda ide maupun konsep dalam dua program ini, tapi keduanya akan berujung pada satu muara: publikasi tulisan.

***

“Gung, kesini cepat! Ada kompos di belakang pasar!”

Manji mempercepat langkah setelah menghampiri aku. Dengan semangat yang tersisa, aku mengimbangi langkah cepat Manji. Dia terengah-engah mengatur nafas saat aku mendapatinya sejajar berjalan.

“Katanya ada di suatu tempat. Mereka mengumpulkan sampah, kemudian menjadikannya pupuk,” Manji menambah penasaranku.

Mulailah kami memasuki lorong-lorong sempit pasar untuk mencari tempat pembuatan kompos. Setelah yakin dengan tempat yang dituju, nampak lima buah gentong berwarna biru. Tiga gentong dimodifikasi lebih rumit, karena posisinya menggelantung seperti kambing guling yang siap dibakar dengan sebuah gagang besi sebagai pemutar. Aku mencoba memutar-mutar gentong itu untuk tahu cara kerja alat sederhana pembuat kompos. Di dinding-dindingnya terdapat beberapa lubang kecil dengan jarak beraturan untuk memisahkan sampah dari air. Juga ada sebuah pintu sebesar sekop untuk memasukkan sampah. Gentong ini sepertinya untuk mengaduk sampah yang akan dijadikan kompos sebelum dimasukkan ke dalam gentong penguraian. Dua gentong lain dalam posisi berdiri dengan dua buah pipa paralon menembus sisi-sisinya, di bagian atas dan bawah. Di bagian lain, sebuah corong udara melengkung ke atas untuk menguapkan pupuk cair, bentuk lain penguraian sampah organik. ”Mereka mendapat bantuan dari Australia untuk membuat pupuk Gung,” Manji berkomentar. Dia mendapatkan informasi dari salah seorang yang ditemuinya saat kami berpisah tadi.

Pasar ini nampaknya penuh dengan program pemerintah. Mulai dari tata letak menurut jenis dagangan yang aku lihat di awal, kemudian dipertegas dengan kalimat “Pasar Percontohan”. Pasar ini juga sedang dimandat oleh pemerintah Kota Makassar sebagai Pasar Sehat. Dan sekarang, aku menemukan pasar ini sedang membuat pupuk kompos dari sampah yang mereka hasilkan. Sebagai langkah awal, pasar ini cukup baik dengan “gaya” dan “Citra”. Namun ada hal-hal yang perlu menjadi catatan penting dengan program yang dilakukannya.

Penobatan sebagai pasar sehat harus dibayar mahal oleh pedagang. Para pedagang harus membayar retribusi yang semakin meningkat. Sementara, pengunjung semakin berkurang, karena ada sebuah Mall besar di dekatnya. Ditambah Carrefour serta Pasar Segar yang siap merebut hasrat berbelanja pengunjung pasar ini. Pasar moderen yang bermodal besar ikut menjual kebutuhan rumahtangga. Kini yang bertahan hanya langganan setia mereka, atau jika lagi mujur ada pengunjung tersesat yang membeli barang dagangan mereka, itupun tidak banyak. Lainnya, penetapan lokasi dagangan sesuai jenis dagangan. Pemerintah melalui pengelola pasar yang ditunjuk telah menetapkan harga, tentu tanpa menanti kesepakatan dari pedagang sebelumnya. Tidak heran, masih ada tempat-tempat yang tidak ditempati pedagang karena tidak cocok dengan harga yang telah ditentukan. Selain itu, program pengelolaan sampah menjadi kompos belum mampu menjawab permasalah sampah di pasar ini. Jumlah sampah yang dihasilkan tidak sebanding dengan alat pengelolaannya, karena program bergantung pada dana bantuan, bukan dari kesadaran dan swadaya dari pedagang sendiri.

Dari keseluruhan program di pasar Todopuli ini, yang paling menakutkan adalah efek dari bantuan dana itu sendiri. Ia bisa mengakibatkan ketergantungan. Aku sepertinya perlu mencari lebih banyak informasi untuk menyampaikan kepada pedagang dampak-dampak yang telah aku ramalkan. Atau ada beberapa orang yang mau menemaniku mencari informasi yang mungkin saja akan sulit didapatkan. Karena ini proyek berdana besar, tentu perut orang-orang proyek ini tidak kalah besarnya, sehingga mulut dan tangan mereka jadi lebih kecil untuk membantuku mendapat informasi.

***

Hj. Dalleng namanya. Aku memanggilnya mama’, panggilan umum yang digunakan mahasiswa Makassar kepada orang tua yang mereka temui. Tujuannya sederhana: agar terasa lebih akrab. Aku bertemu dengannya di sudut sepi pasar Todopuli. Bermacam jenis beras dia tawarkan kepada calon pembeli. Yang paling mahal adalah beras ketan hitam. Harganya mencapai Rp 12.000/kilogram. Beras jenis lain harganya berada di bawahnya.

Semua berjalan lancar. Aku mulai mengumpulkan informasi tentang dirinya melalui pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan. Tetapi saat aku mencoba mengeluarkan buku catatan kecilku, dia merasa tidak nyaman dan terancam. Kekacauan muncul. Aku gagal mendapat banyak informasi. Sehingga aku hanya bisa menebak-nebak beberapa hal tentang dirinya.

Hj. Dalleng kuperkirakan umurnya sekitar 60 tahun. Rambutnya sebagian banyak putih kecoklatan. Kerutan-kerutan di wajah nampak tegas tanpa harus dia mengernyit lagi. Aku bayangkan dia seorang nenek dari 20 orang cucu atau seorang ibu dari delapan anak. Namun, semua dugaanku runtuh: “Belum pernah ka’ menikah…”

Tidak ada kekecewaan atau ketakutan yang ditampilkan saat dia mengucapkannya. “Cuma ada kemenakan yang tinggal sama ka’…,” tegasnya, sambil memukul pipi kiriku. Ia tertawa lepas. Giginya masih utuh di bagian depan. Dia pasti merawat gigi-gigi itu dengan baik saat masih muda. Matanya pun mengecil, tenggelam oleh lipatan keriput di sekitarnya. Aku tawarkan Manji padanya untuk dijadikan sebagai anak angkatnya, tapi dia hanya membalas dengan senyum sambil memegangi tanganku. Permukaan tangannya sangat kasar. Jelas saja karena saat muda dia bekerja sangat keras di sebuah pabrik makanan, jauh sebelum dia menetapkan hati untuk berjualan beras di pasar ini.

Dia berkisah: dia mendapat banyak uang dari hasil kerjanya, sehingga dia bisa pergi menunaikan rukun Islam kelima di tanah Mekah. Pekerjaan itu dia dapat setelah memutuskan pergi dari kampung halaman di kabupaten Sinjai menuju Makassar. Dengan bekal lulusan Sekolah Rakyat, dia memulai kehidupannya di tanah rantauan.[]


Untung Masih Ada Puang Hasan



# Sketsa Ekologi Desa Kompang Bagian 1


SATU sore yang dingin di bulan Juni, saat kabut tipis bergerak perlahan di punggung-punggung bukit. Cerita Inru mulai diperdengarkan padaku oleh Hasan di sepanjang jalan menuju pohon-pohon tempatnya akan menyadap air Inru. Mereka menyebutnya nyara’ atau sara—atau bahasa umumnya menyadap atau sadap. Dari rumahnya, di pinggir jalan poros Sinjai-Malino, tepatnya di dusun Bonto, desa Kompang—dimana atap rumah Hasan sejajar tingginya dengan jalan, bahkan lebih rendah lagi—kami bergegas sebelum gelap menyergap, air Inru harus segera sampai di wajan masak.

            Melewati deretan pohon kakao berumur lebih 15 tahun yang tidak beraturan, jalan dimulai dengan medan menurun. Kakao ditanam di sela-sela batu yang banyak terdapat di lahan-lahan petani desa Kompang. Tanah subur yang terdiri dari gumpalan tanah liat berpasir yang banyak terdapat di wilayah ini. Tepat di kebun milik Hasan, kakao-kakao uzur berbuah kering telah siap digantikan oleh bibit cengkeh setinggi dada manusia dewasa tumbuh di sampingnya. Karena usia dan penyakit yang tidak kunjung terobatilah kakao sesaat lagi akan mengakhiri kejayaannya di tanah milik Hasan.

            “Saya siapkan lahan ini (menunjuk di tempat beberapa pohon kakao tua nyaris tanpa buah) untuk cengkeh, makanya banyak bibit cengkeh yang saya tanam di sini”, Hasan menjelaskan padaku mengenai keberadaan bibit cengkeh di hadapanku sambil terengah.

            Selain cengkeh, ada pula bibit pohon Pala dan Durian yang ditanam oleh Hasan di sekitar kebun kakaonya yang tidak produktif lagi. Harapannya, bibit-bibit baru ini akan mampu menggantikan tanaman kakaonya.

            Kemudian hadir pertanyaan, apa yang membuat Hasan mampu bertahan di saat kakao tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarganya? Apa yang dilakukan Hasan ketika cengkehnya yang tidak berbunga tahun ini akibat musim hujan yang nyaris sepanjang tahun? Jika hanya melihatnya sepintas, hampir tidak ada tanaman di kebunya yang bisa menyelamatkan Hasan.

***

MENYADAP Inru merupakan keahlian turun temurun di keluarga Hasan. Ayahnya, puang Batong dan kakeknya, puang Karro juga legenda penyadap Inru di masa lalu. Legenda keluarga ini bisa menyadap ratusan pohon Inru miliknya. Terakhir, Hasan masih mendapatkan puang Karro yang bungkuk hampir menyentuh tanah, masih kuat memikul air Inru di punggungnya. Berat air Inru yang dipikul bisa mencapai 20 kilogram, bergantung dari kuwalitas airnya. Biasanya, jika kuwalitasnya bagus (rasanya lebih manis dan gula yang dihasilkan lebih banyak), maka beratnya akan bertambah. Melewati jalan terjal dengan kemiringan hingga 50 derajat ditambah susunan batu tajam berlumut.

Desa Kompang saat itu (1960-an akhir), masih dipenuhi oleh ribuan pohon Inru dan kemiri. Puang Batong saja semasa hidupnya memiliki lebih 100 pohon Inru, padahal lahan miliknya termasuk lahan yang sempit di antara lahan milik warga yang lain. Jadi bisa kita bayangkan 35 tahun silam—saat cengkeh dan kakao belum ada—desa tempat Hasan tinggal dipenuhi oleh pohon-pohon penghasil gula aren/gula merah.

            Sekitar 1970-an akhir, cengkeh mulai masuk di desa Kompang, kemudian disusul oleh kakao di awal 1980-an. Pada umumnya, ada dua cara petani mendapatkan bibit. Pertama, dengan membeli bibitnya dari teman, sampai pedagang langsung bibit. Cara kedua adalah melalui pemerintah desa (kepala desa dan jajarannya). Pemerintah melalui dinas pertanian kabupaten membagikan 3 bibit untuk satu rumah tangga secara cuma-Cuma untuk di tanam di kebun masing-masing. penyalurnya kemudian adalah pemerintah desa yang dibantu oleh penyuluh pertanian. Akhirnya, semakin banyak petani yang mengubah peruntukan lahannya, dari tanaman jagung ke cengkeh dan kakao.

Karena kedua jenis tanaman ini (cengkeh dan kakao) membutuhkan penyinaran langsung yang baik, dimulailah penebangan pohon-pohon besar yang kira-kira bisa menghalangi pertumbuhan cengkeh dan kakao. Sejak saat itulah banyak pohon Inru dan kemiri yang ditebang oleh petani. Selain dapat menghambat proses pencahayaan, Inru dan kemiri juga dapat mengakibatkan tanaman di sekitarnya berebut makanan. Untuk memaksimalkan pertumbuhan cengkeh dan kakao maka perebutan makanan di dalam tanah harus diakhiri. Keputusan akhir, petani mengorbankan tanaman lamanya.

Tidak semua tanaman Inru menjadi korban. Peristiwa itupun tidak terjadi dalam sekejap, tapi bertahap. Hingga kini masih ada beberapa pohon yang tetap tumbuh, dengan catatan pohon Inru tersebut tidak mengganggu tanaman komoditi petani. Termasuk sekitar 4 pohon inru yang hingga kini masih menetesi ekonomi keluarga Hasan.

***

MENGAMBIL air indu dari pohonnya atau nyara’ bukanlah pekerjaan mudah. Selain membutuhkan pengalaman, juga kesabaran untuk tetap memperlakukan tanaman dengan kearifan. Maka tidak jarang ada pemilik inru yang menyerahkan pohonnya kepada petani lain untuk di sara’ karena menganggap dirinya kurang mampu untuk melakukannya.

Di dusun Bonto misalnya, saat ini hanya tersisa sekitar 10 orang saja pembuat gula yang masih aktif mengambil air inru dari pohonnya. Alasannya beragam, ada yang menganggap pekerjaan ini pekerjaan berat dengan penghasilan yang tidak sebanding, kurang berpengalaman sehingga pohon tidak menghasilkan air yang cukup banyak—bahkan tidak ada sampai beranggapan bahwa pekerjaan ini pekerjaan kelas bawah. Tapi tidak masalah dengan anggapan itu, karena semakin sedikit yang menekuni pekerjaan ini, semakin besar permintaan pembeli—mengingat bahwa banyak makanan tradisional masyarakat yang menggunakan bahan gula aren, seperti cendolo, saraba, kolak, kue bugis dan masih banyak lagi.

Bagi Hasan, mengambil air inru bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi tidak untuk sebagian orang. Untuk pohon inrunya, Hasan mengaku hanya dia yang bisa mengambilnya. Jika coba memberikan pekerjaan ini ke orang lain, maka kuwalitas gulanya kurang baik. Kadang gula yang dihasilkan akan sangat buruk—warnanya menjadi kehitaman. Bahkan inru akan ‘mogok’ untuk meneteskan airnya. Ini bukan mencari pembenaran atas ketidaktahuan penyebab masalah yang terjadi pada inrunya, tetapi ini yang dialami oleh Hasan. Memahami dan memperlakukan alam dengan kasih sayang, tentunya dengan bumbu kesabaran.

“Yah, kalau hari ini airnya sedikit, mungkin itu yang ada. Mungkin besok sudah kembali banyak lagi airnya. Yang penting harus sabar”, Hasan meyakinkan.

Kuwalitas dan banyaknya air inru tidak dipengaruhi oleh curah hujan menurut Hasan, tetapi bagaimana kita merawat dan memperlakukannya. Jika perlakuannya baik, maka gula yang dihasilkan akan baik pula.

Berikut tips yang diberikan oleh Hasan:

Mulanya harus menunggu hingga pohon inru benar-benar bisa memproduksi gula. Sebelum mengiris ara’angnya (bagian batang tempat menempelnya buah), bagian ini harus diketuk-ketuk dengan kayu dari pangkal hingga ujung agar bisa menghasilkan air nantinya. Kayu dibuat khusus agar tidak melukai bagian ara’angnya yang akan diiris. Bisanya pengetukkan dilakukan hingga 7 kali. Biasanya dilakukan satu kali dalam 2 sampai 3 hari.

Untuk memastikan bahwa ara’angnya ini sudah bisa mengeluarkan aair, maka dilakukan uji coba terlebih dahulu. Caranya mudah, yakni dengan membuat penusuk berbentuk seperti pahat dari sebilah bambu. Kemudian penusuk ditancapkan ke ara’angnya kemudian dilepaskan kembali. Jika lubang mengeluarkan air, maka ara’angnya siap untuk diiris.

Bagian yang diiris adalah ara’angnya yang paing dekat dengan tangkai buah. Kemudian diiris halus dengan menggunakan parang khusus yang Hasan sebut panggari’, parang yang dipesan khusus dari Maddako, desa Gunung Perak. Menurutnya, parang ini lebih tajam dari parang biasa. Sisi mata parang lebih tipis sehingga memudahkan untuk melakukan pengirisan. Sama tajamnya dengan pisau silet. Setelah itu, permukaan yang sudah diiris dibersihkan dan membuat cekungan di bagian bawah untuk tempat mengalirnya air. Barulah bambu pattung diletakkan untuk menampung air inru yang keluar.

Bambu pattung ini sebelum digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian mengupas bagian luar kulit bambu agar tidak terlalu berat saat dipikul. Kemudian meletakkan sene atau pengawet yang berasal dari akar kayu Sappaying agar kuwalitas air inru terjaga saat berada di bambu penampungan. Cukup mengiris 5 centimeter sene untuk dimasukkan ke dalam bambu sebelum menampung air inru. Kemudian bagian atas bambu ditutup dengan gumpalan dari daun sukun.

Saat bambu diletakkan untuk menampung air inru, bagian atasnya kemudian ditutup menggunakan pelepah batang pinang kemudian diikat rapat. Tujuannya agar binatang malam—seperti tikus dan kelelawar—tidak mengotori air inru dalam bambu.

***

SEHABIS shalat subuh, sekitar pukul 05.30 WITA Hasan segera bergegas untuk mengambil air inru dalam penampungan. Tidak lupa tas selempang berwarna biru tua yang berisi perlengkapan kebun diselipkan di tubuhnya. Air inru harus segera diambil sebelum siang untuk mengganti bambu penampung semalam yang telah penuh terisi. Biasanya, di sela aktifitas nyara, Hasan akan mengurus kebunnya, juga mencari kayu bakar untuk memasak inru yang akan dijadikan gula. Setelah siang, barulah memutuskan pulang untuk beristirahat.

            Sekitar pukul 15.00 WITA, Hasan akan kembali ke pohon-pohon inrunya untuk pengambilan yang kedua. Memanjat satu persatu puhon inru dengan tangga bambu sederhana yang dibuatnya.tangga yang tentunya tidak memenuhi standar keamanan dan sangat licin jika hujan telah mengguyurnya.

            Setiap mengganti bambu penampung air inru, pengirisan tetap dilakukan. hal ini dilakukan untuk menjaga agar ara’angnya tetap bersih dan meneteskan airnya. Terus teriris hingga pangkal sampai ara’angnya tidak lagi mampu meneteskan airnya. Biasanyanya, ara’angnya akan bertahan hingga 6 bulan, bergantung pada kemampuan pohon inru sendiri. Demikin pula dengan pengetukkan, akan dilakukan seperlunya untuk memaksimalkan keluarnya air.

            Untuk penggemar ballo, biasanya air inru akan dibiarkan di dalam penampungan hingga berminggu-minggu hingga rasa dan baunya berubah menjadi keasaman. Minuman beralkohol hasil fermentasi alami dalam bambu, tetapi rasanya tidak semanis jika air inru yang diambil setiap hari—saat rasa dan bau belum berubah.

            Lalu, bagaimana air inru bisa menjadi tumpuan ekonomi keluarga Hasan di tengah kebun kakao yang tidak produktif lagi? Atau di saat cengkeh-cengkeh tidak menghadirkan bunganya? Siapa yang membantu Hasan mengerjakan air inru ini untuk menjadi gula? Bagaimana cara hasan menjual hasil kerjanya?

***

ISTERI Hasan, Erna, dengan mata terus menyempit coba menghindari terpaan asap kayu bakar di kolong rumahnya. Tapi sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh menghidarinya. Bukankah dia seharusnya menjauhinya, atau memadamkan api hingga tidak sejumput asap pun yang masih terbang. Tetapi toh dia terus menjaga api agar tetap menyala. Membolak balik kayu, mendorongnya, meniupnya sesekali mengaduk air inru yang dimasak. Menantinya hingga mengental dan siap dicetak ke tempurung kelapa untuk menjadi gula.

            Pekerjaan ini terus dilakoninya untuk memenuhi permintaan gula dari langganan-langganannya, terutama saat tingkat konsumsi makanan manusia meningkat di bulan puasa. Terkadang karena banyaknya permintaan hingga dia tidak bisa menyanggupinya.

            Dalam sehari, biasanya Erna menghasilkan sekitar 10 sampai 15 buah gula yang nyaris tidak bisa disimpan. Pembeli biasanya memesan sebelum gula benar-benar telah rampung pengerjaannya. Sebagai saran, jika ingin merasakan gula buatan Erna, pesanlah jauh hari sebelum gula itu dibuat.

            Untuk harga gula sangat berfariasi, mulai dari 6 ribu rupiah, hingga 10 ribu rupiah. Apalagi saat-saat permintaan meningkat—biasanya saat bulan Ramadhan, biasanya harga akan semakin mahal.

            Kemudian pertanyaannya adalah, apa hubungan cerita Hasan ini dengan ekologi dan pangan? Apa manfaat langsungnya dengan masyarakat desa Kompang?[]